Kita semua tahu, suatu hari nanti ajal akan menjemput. Oleh karena itu, masing-masing kita mempersiapkan diri dengan bekal amal terbaik. Namun, pernahkah terpikirkan, siapa yang akan mengurus jenazah kita kelak?

Dalam Islam, ada empat tahap pengurusan (pemulasaraan) jenazah, yaitu, memandikan, mengkafani, menyalatkan, dan menguburkan. Namun selama ini, saat peristiwa kematian terjadi, sebagian besar dari kita ikut andil hanya dalam menyalatkan dan mengantarkan ke makam.

Urusan memandikan dan mengkafani, biasanya diserahkan kepada ustadz atau orang tua. Alasannya, kita belum tahu ilmunya, atau hanya tahu teori tapi tidak percaya diri mempraktikkan.

Hukum mengurus jenazah memang fardu kifayah (kewajiban kolektif). Artinya, jika ada muslim yang sudah melakukannya, maka kewajiban muslim lain gugur. Namun, ini bukan berarti kita lalai dan menyerahkan urusan ini kepada orang lain.

Sahabat Menyesal

Pahala mengurus jenazah sangat besar, sampai-sampai seorang sahabat Rasulullah ﷺ menyesal baru mengetahui keutamaannya.

“’Barang siapa yang menyaksikan jenazah (dari rumahnya) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disalatkan, maka ia mendapat pahala satu qirath. Dan barang siapa yang mengiring jenazah (dari rumahnya) sampai mayit dikuburkan, maka baginya dua qirath.’ Kemudian ditanya, ‘Seperti apa dua qirath itu? Yaitu sebesar dua gunung yang besar’.” (HR. Bukhari-Muslim)

Riwayat mengatakan, Ibnu Umar sangat menyesal setelah mendengar Hadis dari Abu Hurayrah tentang keutamaan bertakziah itu. Ibnu Umar menanyakan perihal kebenaran Hadis tersebut kepada ‘Aisyah, yang kemudian membenarkannya. Ibnu Umar menjawab “Sungguh, sudah banyak qirath kami abaikan”.

Belajar Mengurus Jenazah

Setiap muslim sebaiknya tahu cara mengurus jenazah. Selain karena pahalanya besar, juga agar ada regenerasi ilmu. Jangan sampai saat peristiwa kematian terjadi, warga bingung harus ke mana mencari penulasara.

Seperti Bu Enok, warga pelosok Ciamis, yang menjadi satu-satunya pemulasara jenazah di antara 2.000-an warga. Saking sulitnya menemukan pemulasara jenazah, ia kerap dipanggil hingga ke kecamatan lain.

Waktu terus berjalan. Akan tiba masanya orang tua, ustadz, dan sosok-sosok yang selama ini kita andalkan untuk urusan mengurus jenazah ini, meninggalkan dunia. Jika mereka telah tiada, siapa lagi yang akan meneruskan ilmu itu kalau bukan kita generasi muda.

Pelatihan Mengurus Jenazah

Oleh karena itu, Masjid Nusantara (MN) menyelenggarakan program “Pelatihan Pemulasaraan Jenazah Muslim”. Dalam program ini, MN menyasar masyarakat umum, terutama yang tinggal di pelosok, untuk menggali ilmu dari ustadz-ustadzah yang mumpuni dalam bidang ini.

Untuk itu, MN mengajak Anda berpartisipasi dalam memenuhi biaya kebutuhan training ini. Misalnya, untuk pengadaan boneka peraga, kain kafan, modul tata-cara pengurusan jenazah sesuai syariah, juga memberi bantuan ekonomi untuk Bu Siwar dan pemulasara jenazah lainnya yang berekonomi lemah. Klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *