Satu-satunya Pemulasara Jenazah di Antara Ribuan Penduduk
Satu-satunya Pemulasara Jenazah di Antara Ribuan Penduduk

Rp105.000 donasi terkumpul dari 3donatur

Terkumpul

Rp105.000

Target

Rp150.000.000
Rp

Minimal donasi


Ibu Siwar (60 tahun) dan Ibu Enok (67 tahun) memang belum pernah berjumpa. Namun, keduanya punya satu kesamaan: merekalah yang orang-orang cari saat ada peristiwa kematian.

Ibu Siwar sudah 19 tahun menjadi pemulasara jenazah di Desa Garabak Data, Sumatra Barat. Karena di sana masih jarang orang yang bisa mengurus jenazah, Ibu Siwar jadi sosok yang diandalkan warga untuk mengurus mayit.

Tak peduli siang atau tengah malam, mau cuaca cerah atau hujan deras sekalipun, Bu Siwar hadir. Bukan demi uang, karena Bu Siwar tidak pernah mematok harga, bahkan seringkali ikhlas tanpa dibayar.

https://storage.googleapis.com/www.rumahzakat.org/Masjid%20Nusantara_Pemulasaraan%20Jenazah_4.JPG

Semua ia lakukan karena memahami betapa pentingnya mengurus jenazah. Setelah meninggal pun, seorang muslim tetap harus dimuliakan, yaitu dengan memastikan sang mayit dimandikan, dikafani, disholatkan, dan dikuburkan sesuai syariat Islam.

Begitu pula dengan Bu Enok. Di antara 2.809 penduduk di desanya, ia jadi satu-satunya pemulasara jenazah. Ia tak pernah meminta bayaran, karena motivasinya hanya satu.

"Saya hanya mau ibadah, ingin menolong orang, karena saya juga berharap kelak saat meninggal, saya pun diurus dengan baik," harapnya.

Padahal kalau mau, Bu Siwar dan Bu Enok bisa saja mematok harga tinggi. Kemampuan mengurus jenazah masih jarang dimiliki, dan mereka pasti jadi orang yang pertama dicari saat peristiwa kematian terjadi.

Namun, tak pernah terlintas di benak mereka untuk berbuat seperti itu. Mereka tetap bersahaja, mengisi hari-hari sebagai petani dengan pendapatan seadanya.

Bagi Bu Siwar, pendapatan Rp 300 ribu per bulan adalah rezeki yang harus disyukuri. Bagi Bu Enok, makan hanya dengan daun ubi yang ia petik dari halaman, adalah bentuk kasih sayang Allah kepadanya.

Sobat Masjid, Bu Siwar, Bu Enok, dan pemulasara jenazah lainnya adalah sosok-sosok penting. Namun, banyak dari mereka yang Allah uji dengan kesulitan ekonomi.

Bu Enok dan Bu Siwar sama-sama berharap, generasi muda saat ini harus mulai dilibatkan dalam pemulasaraan jenazah. Tujuannya, selain untuk regenerasi, mengurus jenazah juga berpahala besar.

"'Barang siapa yang menyaksikan jenazah (dari rumahnya) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sampai disalatkan, maka ia mendapat pahala satu qirath. Dan barang siapa yang mengiring jenazah (dari rumahnya) sampai mayit dikuburkan, maka baginya dua qirath.' Kemudian ditanya, 'Seperti apa dua qirath itu? Yaitu sebesar dua gunung yang besar'." (HR. Bukhari-Muslim)

Seorang sahabat Rasulullah bernama Ibnu Umar bahkan sampai menyesal saat baru tahu keutamaan mengurus jenazah. "Sungguh, sudah banyak qirath kami abaikan," ucapnya penuh sesal.

Oleh karena itu, Masjid Nusantara meluncurkan program "Training Pemulasaraan Jenazah Muslim". Dalam program ini, sosok-sosok seperti Ibu Siwar, Ibu Enok, dan pemulasara jenazah lainnya akan mengajarkan praktik pengurusan jenazah kepada generasi muda di lokasi masing-masing.

Untuk itu, kami mengajak Anda berpartisipasi dalam memenuhi biaya kebutuhan training ini. Beberapa kebutuhannya adalah pengadaan model peraga, kain kafan, modul tata-cara pengurusan jenazah sesuai syariah, juga memberi bantuan ekonomi untuk Bu Siwar, Bu Enok, dan pemulasara jenazah lainnya yang berekonomi lemah.

Yuk, apresiasi sosok-sosok pemulasara jenazah ini dengan bersedekah untuk mereka!

Info Terbaru

Belum ada informasi terbaru untuk program ini

Donatur