Setiap Idul Adha datang, suasana masjid terasa berbeda. Ketika takbir berkumandang, hewan-hewan kurban mulai didatangkan dan masyarakat berkumpul menyambut hari yang penuh makna.
Di tengah suasana itu, mungkin ada satu doa kecil yang pernah terlintas di hati kita:
“Semoga suatu hari nanti aku juga bisa berkurban.”
Niat berkurban itu sering hadir dengan tulus dan muncul dari rasa ingin berbagi kebahagiaan dengan yang lain. Namun, kebanyakan orang menunda keinginan mulia tersebut karena merasa persiapan yang dimiliki masih terasa jauh.
Padahal, ketika niat tersebut dijaga dan diiringi usaha, Allah SWT menjanjikan kemudahan dan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka.
Waktu Tepat Untuk Berkurban
Berkurban adalah ibadah yang diimpikan banyak orang. Namun tidak sedikit yang merasa harus menunggu waktu yang tepat dan menunggu keadaan terasa lebih siap.
Sehingga, niat baik itu sering kali hanya datang setiap mendengar momen Idul Adha, lalu kembali tersimpan dan tertunda hingga tahun berikutnya.
Padahal dalam banyak hal, kebaikan tidak selalu menunggu keadaan sempurna. Ia sering dimulai dari niat yang dijaga dan langkah kecil yang diusahakan.
Apalagi, jika kita barengi niat berkurban tersebut dengan ketakwaan pada Allah SWT yang Insya Allah akan membukakan jalan bagi niat kita untuk terwujud.
Allah SWT berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. At-Talaq: 2-3).
Oleh sebab itu, jika sekarang kita memiliki niat untuk melaksanakan kurban.
Jagalah niat tersebut karena sangat mungkin untuk kita menunaikan ibadah kurban di tahun ini.
Kesungguhan Niat Berkurban
Mengingat kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang mengajarkan bahwa kurban bukan sekadar tentang hewan yang disembelih.
Kisahnya mengajarkan kita atas ketaatan kedua Nabi terhadap perintah Allah SWT. Termasuk, kesungguhan Nabi Ismail dalam menerima keputusan dan kesiapan Nabi Ibrahim untuk berkorban di jalan Allah.
Peristiwa itu tidak terjadi dalam satu momen singkat, melainkan melalui proses iman yang kuat dan hati yang benar-benar siap menjalankan perintah-Nya.
Dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kita belajar bahwa ibadah kurban tidak dimulai pada hari penyembelihan.
Tetapi, jauh dari sebelumnya yakni dimulai saat niat berkurban itu tumbuh dan dijaga sampai pelaksanaan.
Kesungguhan niat berkurban terlihat dari bagaimana seseorang mempersiapkannya dengan menguatkan tekad dan mengupayakan langkah-langkah kecil menuju terwujudnya ibadah tersebut.
Karena “menjemput” niat berkurban agar bisa menjadi sebuah kenyataan membutuhkan keseriusan hati dan usaha yang terus dijaga.
Hingga pada akhirnya Allah SWT mempertemukan niat berkurban itu dengan kesempatan untuk mewujudkannya.
Mulai Ikhtiar Dari Sekarang
Niat yang baik akan menjadi lebih cepat terwujud jika dibarengi oleh usaha dan akan lebih bermakna ketika diiringi ketakwaan kepada Allah SWT.
Bagi sebagian orang, usaha itu bisa dimulai dengan cara sederhana seperti menyisihkan sedikit rezeki, menabung secara perlahan dan menjaga niat tersebut tetap hidup dari waktu ke waktu.
Sedikit demi sedikit, ikhtiar kecil itu dapat mendekatkan kita pada satu harapan yang jelas yakni bisa melihat niat berkurban benar-benar terwujud.
Masjid Nusantara memiliki program Kurban Masjid Pelosok, yang menyalurkan hewan kurban ke daerah-daerah yang minim bahkan belum pernah merasakan daging kurban.


Di saat kita masih menata niat dan mempersiapkan diri untuk berkurban.
Di pelosok negeri ada saudara-saudara kita yang bahkan hanya bisa melaksanakan sholat Idul Adha tanpa merasakan nikmatnya daging kurban.
Kadang, kita perlu melihat langsung untuk benar-benar memahami.
Seperti apa rasanya Idul Adha di tempat yang jarang tersentuh kurban?
Saksikan kisahnya melalui video berikut ini, klik link berikut ini : Kurban Masjid Pelosok –Masjid Nusantara
Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa ibadah kurban bukan hanya tentang kemampuan, tetapi juga tentang kepedulian dan kehadiran manfaat bagi sesama.
Maka, menjaga niat berkurban bukan hanya soal menjemput kesiapan diri.
Tetapi juga membuka hati untuk melihat bahwa diluar sana, masih banyak kebahagiaan kurban yang menunggu untuk dihadirkan.
Sumber foto: Bayu Syaits – Unsplash.






