Artikel

Jangan Kasih Kendor, Lanjut Puasa Syawal!

Ada kesedihan dengan berlalunya Ramadhan, tapi ada pula kebahagiaan karena Allah memberi kesempatan bertemu Idul Fitri. Meski hari-hari puasa wajib telah berlalu, jangan kasih kendor. Lanjut puasa Syawal, yuk!

Puasa Syawal adalah puasa sunah yang dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal. Salah satu keutamaannya tertuang dalam hadits berikut.

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)

Seperti Berpuasa Setahun

Suatu hari, atasan di tempat kerja berkata begini, “Jika Anda masuk kerja nonstop selama 30 hari di bulan April, lalu disambung masuk kerja lagi 6 hari di bulan Mei, maka Anda akan langsung mendapat hadiah uang tunai senilai gaji 12 bulan!” Masya Allah, kira-kira akan menolak, tidak?

Sobat Masjid, seperti itulah ilustrasi puasa Syawal. Namun, tentunya malah jauh lebih besar dari itu, karena hadiahnya adalah setahun penuh kebaikan dari Allah. Kebaikannya tertuang dalam segala hal, seperti dari segi iman, ketangguhan mental, kesehatan, dan juga rezeki.

Riyadush Shalihin menjelaskan, orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa Ramadhan selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan.

Puasa Syawal selama enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari, yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh (12 bulan).

Afdhalnya Berurutan

Dalam Syarh Muslim, ulama madzhab Syafi’i cenderung berpendapat puasa ini lebih afdhal dilakukan berturut-turut. Namun, jika mengalami udzur, dicicil pun tidak apa-apa.

“Paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal, maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” (Imam Nawawi dalam Syarh Muslim)

Ada kalanya halangan terjadi di bulan Syawal, sehingga menghalangi kita berpuasa sunah. Misalnya, udzur karena sakit, nifas, bepergian, dan lain-lain. Untuk orang-orang ini, ulama memperbolehkan mengqadha’ (mengganti) puasa Syawal di bulan Dzulqa’dah. (Riyadush Shalihin)

Tunaikan Qadha’ Puasa Ramadhan Dulu

Perkara wajib harus lebih diutamakan dibandingkan perkara sunah. Mengganti (qadha’) puasa Ramadhan hukumnya wajib. Oleh karena itu, sebelum melaksanakan puasa Syawal, sebaiknya kita menunaikan utang puasa Ramadhan terlebih dahulu.

Dalilnya adalah hadits di awal. Nabi ﷺ menyebutkan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan…” Artinya, saat seseorang punya utang puasa, ia belum sempurna puasa Ramadhan sebelum mengganti utangnya itu.

Jadi, agar mendapat pahala selama setahun penuh, ia harus mengqadha’ puasa Ramadhan dulu, sebelum melanjutkan pada puasa Syawal.

Setelah 30 hari terbiasa puasa Ramadhan, insya Allah tidak sulit untuk melanjutkan enam hari lagi puasa Syawal. Mari, siapkan bekal amal sebanyak-banyaknya selagi Allah beri kesempatan.


Sumber: Rumaysho
Foto: Swapnil Dwivedi, Unspash