Setiap hari, media sosial memperlihatkan banyak orang yang dianggap inspiratif. Ada yang sukses membangun bisnis di usia muda, memiliki karier gemilang, hidup serba berkecukupan, tampil percaya diri atau memiliki jutaan pengikut. Kita melihat perjalanan mereka, mengikuti kebiasaan mereka, bahkan menjadikan mereka sebagai role model dalam menjalani hidup.
Di tengah sibuknya kita mencari sosok untuk diteladani, sudahkah kita benar-benar mengenal sosok teladan terbaik yang telah Allah ﷻ hadirkan untuk umat manusia?
Sosok itu adalah Rasulullah ﷺ.
Allah ﷻ berfirman bahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi orang-orang yang mengharap rahmat Allah ﷻ dan kehidupan akhirat. (Q.S Al-Ahzab: 21).
Lalu, seberapa jauh kita benar-benar menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan kita lebih hafal rutinitas seorang figur di media sosial daripada kebiasaan Rasulullah ﷺ.
Ketika Kita Lebih Sibuk Mengikuti daripada Meneladani
Melihat seseorang berhasil sering kali membuat kita ingin menjadi seperti mereka. Popularitas seseorang pun dapat membuat kita menginginkan kehidupan yang serupa. Bahkan, ketika melihat orang lain tampak bahagia, tanpa sadar kita mulai membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan yang sebenarnya hanya terlihat melalui layar.
Perlu di ingat tidak semua yang terlihat berhasil layak dijadikan arah kehidupan. Tidak semua yang populer pantas dijadikan teladan. Dan tidak semua yang viral memiliki nilai yang perlu kita ikuti.
Karena itu, kita membutuhkan role model yang bukan hanya mengajarkan bagaimana meraih kesuksesan, tetapi juga bagaimana menjadi manusia.
Dan Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan itu. Beliau menunjukkan bahwa kekuatan tidak harus menghilangkan kelembutan, kesulitan tidak seharusnya memadamkan harapan dan kedudukan bukan alasan untuk menjadi sombong.
Bahkan, beliau juga mengajarkan sesuatu yang mungkin semakin sulit kita lakukan hari ini: menjadi baik, meski kita memiliki kesempatan untuk membalas keburukan.
Rasulullah Tidak Hanya Memberi Nasihat, tetapi Memberi Contoh
Salah satu hal yang membuat Rasulullah ﷺ begitu istimewa adalah karena beliau tidak hanya menyampaikan kebaikan melalui kata-kata. Beliau menjalani apa yang beliau ajarkan.
Kejujuran yang beliau ajarkan tercermin dari pribadinya yang dikenal terpercaya. Kasih sayang hadir dalam cara beliau memperlakukan orang lain dengan penuh kelembutan. Sementara kesabaran terlihat dari keteguhan beliau dalam menghadapi berbagai ujian yang tidak mudah.
Rasulullah ﷺ juga menunjukkan bahwa akhlak tidak hanya diuji ketika keadaan sedang baik. Justru karakter seseorang sering kali terlihat ketika sedang marah, kecewa, memiliki kekuasaan atau menghadapi orang yang tidak menyukainya.
Keteladanan Rasulullah ﷺ itu sangat dekat dengan kehidupan kita. Ia bisa dimulai dari cara kita berbicara kepada orang tua. Keteladanan itu dapat terlihat dari bagaimana kita memperlakukan pasangan dan keluarga, bersikap kepada teman maupun rekan kerja, hingga menggunakan media sosial.
Kita Tidak Kekurangan Teladan, Kita Mungkin Kurang Mengenalinya
Tanpa sadar, terlalu banyak orang yang ingin kita ikuti. Terlalu banyak standar yang ingin kita capai. Terlalu banyak kehidupan orang lain yang diam-diam kita jadikan ukuran.
Akibatnya, arah hidup mulai kehilangan arah. Kesuksesan ingin diraih, tetapi tidak tahu untuk apa. Popularitas juga mungkin ingin didapat, tanpa benar-benar tahu manfaat apa yang ingin diberikan. Banyak hal yang ingin dikejar dan dikumpulkan, tetapi masih selalu merasa kurang.
Rasulullah tidak mengajarkan umatnya untuk hidup mengejar pengakuan manusia. Beliau mengajarkan kita untuk mencari keridaan Allah ﷻ.
Beliau tidak mengajarkan bahwa manusia harus selalu menjadi yang paling unggul di hadapan orang lain. Tetapi beliau mengajarkan agar manusia menjadi pribadi yang paling bermanfaat.
Bukankah itu yang sebenarnya kita butuhkan? bukan sekadar jalan menuju sukses, melainkan kepastian agar kita tetap menjadi manusia saat sukses itu diraih. Bukan sekadar kemampuan menguasai dunia, melainkan keteguhan agar dunia tak bertakhta di dalam hati.
Dari Kekaguman Menjadi Keteladanan yang Nyata
Manusia yang kita kagumi hari ini bisa berubah. Popularitas bisa hilang. Tren bisa berganti. Bahkan nilai-nilai yang dianggap hebat hari ini belum tentu tetap relevan di masa depan.
Tetapi keteladanan Rasulullah akan terus relate melewati berbagai zaman.
- Kejujuran akan tetap dibutuhkan.
- Kasih sayang akan selalu bermakna.
- Keadilan akan selalu menjadi sesuatu yang diperjuangkan.
- Dan kepedulian kepada sesama tidak akan pernah kehilangan nilainya.
Maka, mungkin kita tidak perlu terlalu jauh mencari sosok yang bisa mengajarkan kita bagaimana menjalani kehidupan.
Kita sudah memiliki Rasulullah ﷺ, yang perlu kita lakukan adalah kembali mengenalnya.
Bukan hanya mengetahui kisah hidupnya, tetapi memahami akhlaknya.
Bukan hanya mengagumi perjuangannya, tetapi mencoba meneruskan semangat kebaikannya.
Meneladani Rasulullah dengan Menghadirkan Manfaat hingga Pelosok Negeri
Salah satu ajaran yang begitu kuat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ adalah kepedulian kepada sesama. Beliau tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga hadir untuk mereka yang membutuhkan.
Ketika kita memiliki kesempatan untuk membantu menghadirkan masjid yang layak, sesungguhnya kita sedang berusaha meneruskan semangat kepedulian yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Melalui program Bangun Masjid Pelosok, Masjid Nusantara mengajak Sobat Masjid untuk mengambil bagian dalam menghadirkan rumah ibadah yang lebih layak bagi saudara-saudara kita di berbagai pelosok pedalaman.
[Klik disini untuk salurkan infak dan sedekah terbaikmu ke program Bangun Masjid Pelosok!]
Dan salah satu cara mencintai serta meneladani Rasulullah ﷺ adalah dengan memastikan bahwa kebaikan yang kita miliki tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi juga sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Mari lanjutkan keteladanan itu. Mari hadirkan manfaat hingga pelosok negeri melalui pembangunan masjid yang layak bersama Masjid Nusantara.
Sumber foto: Rumman amin – Unsplash.






