Di kota, kita mudah menemukan masjid yang nyaman, dingin dan bangunannya megah. Namun, ketika kita melihat ke banyak pelosok Indonesia, ada masjid yang tetap dipakai sholat meski atapnya bocor, dinding kayunya berlubang dan lampu yang sering mati.
Ternyata, masjid pelosok itu tetap hidup dan bertahan karena ada sedekah dari warga seadanya.
Dari uang receh warga yang hidupnya pas-pasan, mereka tetap menyisihkan sedikit rezekinya untuk membangun rumah Allah ﷻ.
Dibangun dari Ketulusan Orang-Orang Sederhana
Masjid pelosok itu banyak dibangun lewat hasil patungan warga yang nominalnya mungkin tidak seberapa.
Ada yang nyumbang Rp10.000 setelah pulang jualan. Ada bapak-bapak yang bantu mengangkut semen sepulang kerja. Bahkan, ada ibu-ibu yang nyisihin uang dapur mereka demi bisa ikut sedekah masjid.
Pelan-pelan, dari bantuan sederhana yang mereka kumpulkan, sebuah masjid pun terbangun. Ditengah keterbatasan, mereka percaya bahwa membangun rumah Allah ﷻ bukan soal kaya atau tidak, melainkan soal ibadah dan kepedulian.
Di situlah makna sedekah masjid terasa begitu hangat. Mereka bukan hanya menghadirkan bangunan dengan papan kayu dan atap, tetapi juga membangun ruang penjagaan iman mereka di pelosok.
Ketika “Seadanya” Bertemu “Batasnya”
Selama ini banyak masjid pelosok bertahan dari apa yang ada. Kalau ada rezeki lebih, beli semen sedikit. Kalau ada warga yang bantu, barulah bangunan diperbaiki pelan-pelan. Semuanya dilakukan seadanya, semampunya.
Kemudian, bagaimana jika ada saat dimana “seadanya” akhirnya bertemu dengan “batasnya”?
Atap yang bocor semakin parah tapi belum bisa diganti, speaker masjid rusak dan adzan yang mulai terdengar samar-samar. Bahkan sampai masih ada yang menggunakan tempat wudhu tidak layak pakai.
Bukan karena warga tidak peduli. Justru mereka sudah berusaha semaksimal mungkin. Hanya saja, kemampuan mereka memang terbatas.
Bayangkan tinggal di daerah yang warganya bekerja memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah berat, tetapi mereka tetap berusaha menjaga masjid agar terus hidup dan bisa digunakan.
Kadang sebuah masjid pelosok itu tidak membutuhkan kemewahan. Mereka hanya ingin tempat sujud yang aman, nyaman dan tetap bisa digunakan untuk menjaga iman masyarakat di sekitarnya. Oleh sebab itu, Di titik inilah sedekah masjid menjadi sangat berarti.
Karena bantuan dari luar, bisa menjadi penyambung harapan yang selama ini dipikul sendiri oleh warga sekitar. Mungkin bagi kita hanyalah nominal biasa, tetapi bagi mereka sedekah kita bisa menjadi jalan agar masjid di pelosok kembali layak untuk beribadah.
Masjid Pelosok itu Menunggu Kepedulian Kita
Di berbagai pelosok Indonesia, masih ada masjid yang bertahan dengan segala keterbatasannya. Sobat Masjid bisa ikut menjaga rumah Allah ﷻ untuk tetap hidup di daerah-daerah yang jarang tersentuh bantuan. Bukan hanya membantu bangunannya, tetapi juga membantu masyarakat sekitar tetap memiliki tempat ibadah yang nyaman dan layak.
Nabi Muhammad ﷺ pernah mengingatkan kita lewat hadistnya:
“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau do’a anak yang sholeh.”
Membangun masjid adalah salah satu bentuk sedekah jariyah terbaik. Selama masjid itu berdiri, selama karpetnya dipakai buat sujud, air wudhunya mengalir dan huruf demi huruf Al-Qur’an dieja oleh anak-anak di sana, pahalanya bakal terus mengalir ke amal kebaikan mu.
Masjid Nusantara menghadirkan program bantuan untuk masjid pelosok di berbagai wilayah Indonesia. Dari pembangunan, renovasi, hingga dukungan fasilitas ibadah, setiap bantuan yang diberikan menjadi bagian dari upaya menjaga cahaya masjid tetap menyala.
Yuk, ikut ambil bagian dalam sedekah masjid untuk membantu masjid pelosok yang masih membutuhkan perhatian dan dukungan bersama! Caranya mudah hanya tinggal klik program ini ya: [Masjid Pelosok – Masjid Nusantara]






