Setiap tahun, bulan Rabiul Awal selalu menjadi momen yang istimewa bagi umat Islam. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Shalawat dilantunkan, kisah perjalanan hidup Rasulullah kembali diceritakan dan umat Islam diajak untuk mengenal sosok Nabi yang menjadi teladan sepanjang masa.
Semua itu tentu menjadi bagian dari cara kita mengekspresikan rasa cinta kepada Rasulullah. Namun, setelah perayaan Maulid selesai, apakah ada sesuatu yang berubah dalam diri kita?
Bukti cinta kepada Rasulullah juga perlu diwujudkan dengan berusaha meneladani akhlak dan meneruskan kebaikan yang beliau ajarkan. Sudahkah kehadiran kita membawa kebaikan bagi orang lain, sebagaimana Rasulullah membawa rahmat bagi umatnya?
Mengenang Rasulullah, Lalu Melanjutkan Kebaikannya
Rasulullah ﷺ bukan hanya dikenal karena ibadah dan perjuangannya dalam menyampaikan Islam. Ia juga dikenal karena akhlaknya yang mulia.
Nabi ﷺ sering memperhatikan orang yang sedang kesulitan. Memuliakan orang-orang yang sering dipandang rendah. Mengajarkan umatnya untuk saling membantu, menjaga persaudaraan dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Keadaan zaman sekarang, dimana kita hidup di tengah teknologi yang semakin canggih. Informasi bisa tersebar dalam hitungan detik. Semua orang bisa mengetahui berbagai peristiwa dari berbagai belahan dunia hanya melalui layar di genggaman. Namun, kemudahan untuk melihat kehidupan orang lain tidak selalu membuat kita lebih peduli.
Tidak sedikit dari kita yang melihat seseorang sedang mengalami kesulitan, hanya melewatinya begitu saja. Kita bisa merasa iba sesaat, tetapi segera melupakan apa yang baru saja kita lihat. Kita juga hidup di zaman ketika banyak orang ingin terlihat baik, tetapi belum tentu semua orang benar-benar mau melakukan kebaikan.
Di tengah kondisi seperti inilah, akhlak Rasulullah justru terasa semakin dibutuhkan dan relevan.
Maulid mengingatkan kita bahwa meneladani Nabi bukan berarti harus hidup persis seperti masyarakat pada zamannya. Meneladani Rasulullah berarti berusaha menghadirkan nilai yang beliau ajarkan dalam persoalan yang kita hadapi hari ini.
Keteladanan Tidak Berhenti pada Kekaguman
Tidak sedikit dari kita yang mengagumi Rasulullah ﷺ. Kita mengenal kisah perjuangannya, menghafal shalawat untuknya dan menyebut beliau sebagai manusia terbaik yang pernah hidup.
Tentunya, kekaguman saja belum cukup. Seseorang bisa mengagumi kebaikan akhlak Rasulullah tanpa benar-benar melakukan kebaikan. Seseorang bisa mengetahui banyak kisah tentang Rasulullah tanpa berusaha menerapkan satu pun akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, keteladanan seharusnya terlihat dalam tindakan. Coba jawab ini dengan jujur..
- Ketika Rasulullah mengajarkan kepedulian, apakah kita sudah peduli kepada orang di sekitar?
- Ketika Rasulullah mengajarkan kejujuran, apakah kita tetap jujur saat tidak ada yang melihat?
- Ketika Rasulullah mengajarkan untuk menjaga lisan, apakah kita juga berhati-hati dalam berbicara dan menulis di media sosial?
- Ketika Rasulullah mengajarkan kasih sayang, apakah kehadiran kita justru membuat orang lain merasa lebih aman dan dihargai?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini mungkin tidak selalu nyaman untuk dijawab. Namun, justru di situlah momen Maulid Nabi dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi diri.
Karena meneladani Rasulullah bukan tentang menjadi manusia yang sempurna dalam semalam. Keteladanan adalah proses untuk terus belajar mengenai akhlak Rasulullah dan menjadi lebih baik setiap hari.
Merayakan Boleh, Meneladani Jangan Sampai Lupa
Lantas, bagaimana caranya agar momentum Maulid Nabi tahun tidak berlalu begitu saja?
Meneladani Rasulullah ﷺ di era modern sebenarnya tidak selalu menuntut kita untuk melakukan hal-hal besar yang rumit. Siapa pun kita tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan bisa memulainya dari langkah-langkah sederhana di sekitar kita, dengan cara:
- Menjaga Lisan dan Jemari di Media Sosial: Di tengah riuhnya internet, meneladani Nabi ﷺ bisa diwujudkan dengan tidak menyebar prasangka, menahan diri dari komentar menyakiti dan hanya membagikan hal-hal kebaikan yang menyejukkan.
- Membangun Empati dari Lingkungan Terdekat: Belajar lebih peka pada kondisi tetangga, teman kerja atau saudara yang sedang kesulitan. Meniru sifat Nabi ﷺ bisa dimulai dengan mau mendengarkan, menyapa dengan ramah dan mengulurkan bantuan tanpa diminta.
- Menghidupkan Kejujuran dan Kesederhanaan: Menerapkan sifat jujur dalam berdagang, bekerja, dan berinteraksi sehari-hari, serta memilih hidup bersahaja daripada sibuk memamerkan apa yang kita miliki.
- Menjadikan Masjid Tempat yang Merangkul Semua: Bergotong royong menjadikan masjid di sekitar tempat tinggal kita sebagai ruang yang ramah untuk anak-anak, aman bagi musafir dan hadir menjadi penyelesai masalah warga sekitar.
Ketika kebaikan-kebaikan kecil ini kita lakukan secara konsisten, di situlah perayaan Maulid yang sebenarnya sedang kita jalankan.
Mulai Aksi Nyata hingga ke Pelosok Nusantara
Rasa cinta dan kerinduan kita kepada Rasulullah ﷺ tentu tidak boleh berhenti hanya di lingkungan tempat tinggal kita saja. Di luar sana, masih banyak saudara seiman yang membutuhkan uluran tangan kita untuk bisa beribadah dengan layak.
Di saat kita dengan mudah menemukan masjid yang kokoh dan nyaman di kota, saudara-saudara kita di pelosok Nusantara harus berjuang menjalankan shalat di bangunan bertiang pelapuk, beratap bocor, bahkan tanpa penerangan yang memadai. Mereka merindukan tempat ibadah yang aman untuk menjaga pelita iman anak-anak mereka.
Melalui Masjid Nusantara, kamu bisa mengalirkan kepedulian tersebut menjadi aksi nyata. Menjadikan momen Maulid Nabi sebagai pembukti cinta yang utuh bagi saudara sesama.
[Klik disini untuk salurkan infak dan sedekah terbaikmu ke program Bangun Masjid Pelosok!]
Satu batu bata yang kamu kirimkan hari ini tidak hanya membangun dinding tempat ibadah, tetapi juga menjadi bukti bahwa teladan kasih sayang Rasulullah ﷺ terus hidup melalui tangan-tangan kebaikan kita.
Mari mulai dari diri sendiri. Mari mulai dari kebaikan yang sederhana dan mari bersama-sama memperluas manfaat hingga ke pelosok Nusantara.
Sumber foto: Ahmet kurem – Unsplash.






