Artikel

Karena Ajal Tak Pernah Mengenal Alamat

Pada suatu hari malaikat maut datang ke rumah Nabi Sulaiman dengan wujud seorang manusia. Saat itu Nabi Sulaiman sedang berbincang dengan sahabatnya. Ketika malaikat maut ini datang, beliau langsung menatap lama dan tajam kepada salah seorang sahabatnya tadi dan kemudian malaikat maut pun keluar lagi.

Sahabat Nabi Sulaiman bertanya dengan nada ketakutan kepada Nabi Sulaiman, “Wahai Nabiyullah, siapakah laki-laki itu?”

“Sesungguhnya dia adalah malaikat maut.” Jawab Nabi Sulaiman

“Wahai Nabiyullah, aku melihat dia memandangku lama kepadaku dan aku takut dia akan mencabut nyawaku, selamatkan aku darinya.”

Nabi Sulaiman pun berkata,”Bagaimana cara aku menyelamatkan kamu darinya?”

“Saya mohon Tuan memerintahkan angin agar membawaku ke negeri India. Mudah-mudahan dia kehilangan jejak dan tidak bisa menemukan keberadaanku di sana.”

Maka Nabi Sulaiman pun memerintahkan angin supaya membawa sang sahabat ke negeri India pada saat itu juga. Sesampainya di negeri India, malaikat maut mencabut nyawanya. Setelah itu malaikat maut kembali lagi kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Sulaiman bertanya kepadanya, “Apa sebab kau memandang lama kepada laik-laki itu?”

Malaikat maut berkata, “Aku merasa heran karena sesungguhnya aku di perintahkan untuk mencabut ruhnya di negeri India, sedangkan dia berada sangat jauh dari India. Dan ternyata dia dibawa oleh angin hingga sampai di sana bertepatan dengan waktu ajalnya tiba sebagaimana yang telah Alloh tentukan. Hingga aku pun bisa mencabut ruhnya di sana tepat waktu.”

Katanya hal yang paling jauh adalah masa lalu, dan hal yang paling dekat adalah kematian. Masa lalu adalah masa yang tak mungkin kita jangkau lagi, sedangkan kematian adalah saat yang bisa memenggal waktu kita kapan saja, di mana saja. Ia tak mengenal alamat. Sebab siapa saja akan sampai kepadanya, entah kapan.

Sebab seluruh perjalanan hidup di dunia ini adalah sebuah garis yang tengah kita guratkan menuju ajal tiba. Waktu tersebut takkan berkurang satu detik ataupun bertambah satu menit. Semua sudah sesuai ketentuan-Nya, bahkan jauh sebelum mata kita melihat indah dunia.

Seberapa keras usaha kita untuk menghindari dari ajal, maka saat itu justru semakin mendekat. Hanya saja setiap manusia mempunyai cara yang berbeda dalam menghadapinya. Karena ia adalah buah dari segala yang pernah kita perbuat di dunia. Ada orang yang sakit, tapi selamat dari gempa, tapi ada pula yang sehat didatangi ajal melalui gempa. Tak ada yang tahu, kapan Allah menentukan waktu-Nya untuk kita.

Maka, mempersiapkan kematian adalah tentang azzam kebaikan hari ini. Lakukan ia dengan cara paling istimewa, siapa tahu esok adalah perjalanan kita untuk menjemputnya. Karena ajal tak pernah mengenal alamat.


Sobat, ayo siapkan tabungan amal untuk penerang di alam kubur kelak, sekaligus mempersiapkan satu tempat di surga. Mari beramal jariyah lewat program Masjid Nusantara ini.