Apr 24, 2026

Hakikat Masjid dan Keutamaannya Menurut Al-Qur’an dan Hadits

Bagi setiap Muslim, masjid adalah bangunan yang paling akrab di pandangan mata dan paling tenang di dalam jiwa. Namun, seringkali kita melupakan esensi terdalam mengapa bangunan Masjid itu harus berdiri. 

Lebih dari sekadar susunan kayu, batu ataupun semen, masjid memiliki kedudukan istimewa dan sakral dalam syariat Islam. Ia adalah titik pertemuan antara penghambaan murni seorang manusia dengan rahmat Sang Pencipta. 

Menelusuri hakikat masjid berarti memahami mengapa Allah ﷻ menyebutnya sebagai rumah-Nya serta melihat peran penting masjid dalam kehidupan umat Islam, baik dahulu maupun sekarang.

Bukan Sekadar Menara dan Kubah

Masjid memang terlihat sebagai bangunan dengan ciri khas kubah dan menara. Namun, diluar visual arsitekturnya perlu diingat kembali fungsi dari masjid itu sendiri. Sesuai dengan firman Allah ﷻ bahwasanya:

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah.” (QS. Al-Jin: 18).

Artinya, setiap masjid itu milik Allah ﷻ, itu dibangun bukan hanya untuk berdiri secara fisik, tetapi menjadi tempat yang menghidupkan ibadah dengan segala bentuk aktivitasnya mengarah pada penghambaan kepada Allah ﷻ.

Dalam QS. An-Nur ayat 36, Allah ﷻ menjelaskan akan ada rumah-rumah yang diperintahkan untuk dimuliakan dan didalamnya terdapat sebuah cahaya:

“(Cahaya itu ada) di rumah-rumah yang telah Allah perintahkan untuk dimuliakan dan menyebut nama-Nya, di dalamnya senantiasa bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”

Cahaya Allah ﷻ itu luas memancar di langit dan bumi, tetapi tidak semua jiwa mampu menangkap sinarnya, dan masjid merupakan rumah-rumah yang Allah perintahkan untuk dimuliakan, di mana kita akan mendapatkan cahaya itu melalui lantunan zikir, adzan, sholat dan tilawah yang terus terjaga setiap pagi dan petang.

Tugas kita adalah memastikan setiap masjid atau “rumah cahaya” ini tetap tegak berdiri agar masyarakat bisa terus beribadah dan bertasbih memuji Allah ﷻ sepanjang waktu. 

Tempat yang Paling Dicintai Allah ﷻ 

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه,  Rasulullah ﷺ bersabda:

Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid dan tempat yang paling dibenci oleh Allah adalah pasar.” (HR. Muslim, no. 671)

Maksud perbandingan dalam isi hadits tersebut bukan tanpa makna, melainkan sebagai pengingat tentang dua orientasi hidup manusia: antara mendekat kepada Allah atau larut dalam urusan dunia.

Masjid menjadi tempat yang dicintai Allah karena disanalah manusia menundukkan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta. Setiap langkah menuju masjid, setiap sujud yang dilakukan, semuanya bernilai ibadah. Bahkan, kehadiran seseorang di masjid bukan hanya membawa pahala pribadi, tetapi juga menghadirkan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.

Maka, kedekatan kita dengan masjid sejatinya mencerminkan kedekatan kita dengan Allah. Semakin sering seseorang melangkahkan kaki ke masjid, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan cinta dan rahmat-Nya. Di sinilah masjid menjadi tempat pulang terbaik bagi hati yang lelah oleh hiruk-pikuk dunia.

Pusat Peradaban

Dalam sejarah Islam, masjid sedari dulu tidak hanya berfungsi sebagai tempat shalat. Contoh nyatanya ialah Masjid Nabawi yang  berperan sebagai pusat berbagai urusan umat Islam diselesaikan, mulai dari ibadah, menuntut ilmu, hingga persoalan sosial dan kemasyarakatan.

Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya, melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), mereka akan dinaungi rahmat, mereka akan dilingkupi para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi para makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya” (HR. Muslim no. 2699).

Hadits di atas menunjukan bahwa hakikat masjid dapat difungsikan sebagai tempat orang-orang berkumpul dan menimba ilmu. Kemudian, Rasulullah ﷺ juga membentuk kantor pusat pemerintahan dan lembaga keuangan publik yakni Baitul Mal yang berlokasi di Masjid Nabawi.

Sebagai Baitul Mal pada masa itu, masjid berfungsi menjadi tempat pengelolaan dana umat untuk membantu yang membutuhkan, tempat keputusan kebijakan fiskal dijalankan sebagai upaya mendukung kestabilan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Fungsi tersebut menunjukkan bahwa masjid juga merupakan fondasi peradaban Islam. Dari masjid, lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial tinggi. Masjid bukan hanya tempat membangun hubungan dengan Allah, tetapi juga tempat membangun hubungan yang kuat antar sesama manusia.

Masjid di Pelosok

Setelah mengetahui hakikat masjid sebagai tempat yang dimuliakan, dicintai oleh Allah ﷻ , dan menjadi pusat tumbuhnya ketenangan hati dan peradaban umat. Mari kita melihat dan mengingat ke saudara-saudara di pelosok yang ternyata banyak memiliki masjid-masjid yang tidak layak.

Mari ambil bagian dalam menghadirkan masjid yang layak dan penuh kehidupan di pelosok negeri. Sobat Masjid bisa berdonasi ke program Masjid Pelosok! karena bisa jadi, dari satu masjid yang kita bantu bangun, akan lahir banyak kebaikan yang terus mengalir bagi mereka dan amal jariyah yang tak terputus bagi kita sampai akhir hayat. Yuk berdonasi sekarang! Klik ini: Program Masjid Pelosok.

Sumber foto: Kseniia zapiatkina – Unsplash.

Referensi:

  1. Rumaysho.com – Masjid adalah tempat yang paling dicintai di muka bumi
  2. Muslim.or.id – Keutamaan menghadiri majelis ilmu di masjid
  3. Islam.nu.or.id – Baitul mal dan pengelolaan keuangan publik dalam sejarah islam
Categories: Artikel