Setiap tanggal 28 Oktober, masyarakat Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda.
Dalam memperingati momen ini kita sebaiknya tidak harus berhenti hanya pada upacara, mengenakan pakaian adat atau mengunggah ucapan di media sosial. Ada banyak cara memperingati Sumpah Pemuda yang bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari meningkatkan kemampuan diri hingga berkontribusi bagi lingkungan sekitar.
Lantas, apa saja aksi nyata yang bisa dilakukan untuk memaknai Sumpah Pemuda? Berikut lima cara yang dapat dimulai dari diri sendiri.
1. Mempelajari Kembali Sejarah dan Makna Sumpah Pemuda
Cara pertama adalah memahami sejarah dan nilai yang melatarbelakangi terjadinya Sumpah Pemuda. Sebab, sulit meneruskan semangat perjuangan para pendahulu jika kita tidak memahami apa yang mereka perjuangkan.
Sumpah Pemuda lahir dari Kongres Pemuda II yang berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 di Batavia, yang kini dikenal sebagai Jakarta. Para pemuda dari berbagai organisasi dan latar belakang berkumpul untuk memperkuat persatuan dan kebangsaan Indonesia.
Kongres tersebut menghasilkan ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Semangat ini menunjukkan bahwa persatuan dapat dibangun ketika setiap orang bersedia menempatkan tujuan bersama di atas perbedaan yang memisahkan.
Untuk itu, kita bisa membaca kembali sejarah Kongres Pemuda II, mengenal tokoh-tokoh yang terlibat atau berdiskusi tentang relevansinya dengan kehidupan saat ini.
2. Mengembangkan Ilmu dan Keterampilan untuk Masa Depan
Pemuda memiliki peran penting dalam menentukan arah masa depan bangsa. Karena itu, cara memperingati Sumpah Pemuda juga dapat dilakukan dengan mempersiapkan diri agar mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.
Perubahan teknologi, persaingan dunia kerja dan perkembangan informasi menuntut generasi muda untuk terus belajar. Pendidikan formal memang penting, tetapi proses belajar tidak berhenti setelah seseorang lulus sekolah atau perguruan tinggi.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan, seperti mengikuti pelatihan, membaca buku, mempelajari keterampilan digital, meningkatkan kemampuan berkomunikasi atau memperdalam bidang yang sedang ditekuni.
Dalam Islam, semangat menuntut ilmu juga memiliki kedudukan penting. Allah ﷻ berfirman:
“...Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah:11)
3. Menggunakan Media Sosial secara Bijak dan Bertanggung Jawab
Media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Oleh sebab itu, dalam penggunaannya harus dibarengi dengan rasa penuh tanggung jawab.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menggunakan bahasa yang santun, menghormati privasi orang lain, serta tidak ikut menyebarkan konten yang sengaja memecah belah masyarakat.
Selain itu, media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk membagikan pengetahuan, memperkenalkan budaya Indonesia, mengampanyekan kegiatan positif atau menyebarkan informasi tentang program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dengan cara tersebut, teknologi tidak hanya digunakan untuk hiburan atau kepentingan pribadi, tetapi juga menjadi sarana untuk menyebarkan kebaikan dan memperkuat persatuan.
4. Membiasakan Musyawarah dan Menghargai Pendapat Orang Lain
Persatuan tidak berarti semua orang harus memiliki pemikiran yang sama. Dalam sebuah kelompok, perbedaan pendapat justru dapat membantu menemukan solusi yang lebih baik apabila dikelola dengan benar.
Mari mulai membiasakan musyawarah ketika menghadapi persoalan bersama.
Dalam musyawarah, setiap orang perlu mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Keputusan sebaiknya diambil dengan mempertimbangkan kepentingan bersama, bukan sekadar memenangkan keinginan pribadi.
Nilai ini mengajarkan bahwa membangun kehidupan bersama membutuhkan komunikasi, sikap terbuka dan kesediaan mencari jalan keluar secara bijaksana.
Dengan membiasakan musyawarah, generasi muda dapat belajar menjadi pribadi yang tidak hanya berani menyampaikan gagasan, tetapi juga mampu bekerja sama dan bertanggung jawab atas keputusan bersama.
Baca juga: Pemuda Pelopor Perubahan Pembangun Peradaban
5. Berkontribusi melalui Komunitas, Organisasi atau Kegiatan Masjid
Mengambil bagian dalam kegiatan positif di lingkungan sekitar adalah aksi nyata yang paling terasa manfaatnya.
Tidak semua kontribusi harus dimulai dari kegiatan besar. Pemuda bisa bergabung dengan komunitas pendidikan, organisasi kepemudaan, kelompok relawan atau kegiatan kemasyarakatan sesuai dengan kemampuan dan minatnya.
Bagi pemuda Muslim, masjid juga dapat menjadi ruang untuk belajar berorganisasi, memperdalam ilmu agama, mengembangkan keterampilan dan menjalankan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan.
Misalnya, terlibat dalam kegiatan remaja masjid, membantu menyelenggarakan kajian, mendukung program pendidikan Al-Qur’an atau berpartisipasi dalam kegiatan kebersihan dan pengelolaan fasilitas masjid.
Masjid tidak hanya menjadi tempat menunaikan ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan dan kerja sama bagi masyarakat. Melalui kegiatan yang terarah, pemuda bisa belajar tentang kepemimpinan, kedisiplinan, tanggung jawab dan pentingnya bekerja bersama.
Baca juga: Peran Pemuda Islam dalam Pembangunan di Era Zaman Now
Memaknai Sumpah Pemuda dengan Aksi Nyata
Mari jadikan momentum Sumpah Pemuda sebagai awal untuk mengambil peran nyata dalam membangun Indonesia.
Salah satunya dengan ikut mengambil bagian dalam program Bangun Masjid Pelosok sebagai ikhtiar membangun masjid yang tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga menjadi sumber kebaikan bagi umat hingga ke pelosok negeri.
[Klik disini untuk ikut berdonasi Bangun Masjid Pelosok sekarang!]
Mari menjadi Pemuda-Pemudi yang terus bertumbuh, berperan dan bermanfaat.
Semoga waktu dan rezeki yang kita gunakan untuk membangun Masjid di Pelosok ini akan bermanfaat dan menjadi amal jariyah sebagai penolong kita sampai ke akhirat nanti.**
Sumber foto: Menelusuri Sejarah di Balik Sumpah Pemuda – Kemenpora.






