Oct 19, 2026

Dimana Batasan Antara Hidup Hemat dan Pelit?

Memiliki keuangan yang stabil dan terencana adalah impian banyak orang. Di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini, memilih gaya hidup hemat sering kali menjadi langkah bijak agar kebutuhan harian tetap terpenuhi dan masa depan lebih terjamin.

Namun, dalam prakteknya, garis pembatas antara hemat dan pelit terkadang terasa sangat tipis. Tidak jarang seseorang merasa sedang berhemat, padahal tanpa disadari ia justru terjebak dalam sifat kikir yang merugikan diri sendiri maupun orang-orang di sekitarnya.

Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini?

Memahami Akar Perbedaan

Secara konsep, perbedaan mendasar antara hemat dan pelit terletak pada pada motivasi dan prioritas di baliknya.

Hemat (frugality) bersumber dari kesadaran untuk mengelola rezeki secara efisien. Orang yang berhemat berfokus pada pemenuhan kebutuhan prioritas, menghindari pemborosan dan menyisihkan sebagian harta demi menunaikan kewajiban di masa depan.

Sebaliknya, pelit (stinginess/kikir) lahir dari rasa takut akan kekurangan. Orang yang kikir cenderung menahan harta secara berlebihan, enggan mengeluarkan uang untuk kebutuhan pokok yang seharusnya dipenuhi atau merasa berat mengulurkan bantuan meski secara finansial ia sangat mampu.

Al-Qur’an menggambarkan sikap ideal seorang Muslim dalam mengelola harta melalui firman Allah ﷻ:

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,” (QS. Al-Furqan: 67).

Baca juga: Cara Menyisihkan Sedekah Tanpa Mengganggu Kebutuhan Pokok

Allah ﷻ juga memberikan perumpamaan visual yang sangat jelas agar kita senantiasa berada di titik tengah:

“Dan janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir) dan jangan (pula) engkau terlalu mengulurkannya (sangat pemurah) nanti kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Isra: 29)

Kapan Hemat Berubah Menjadi Pelit?

Untuk mengenali apakah kebiasaan finansial kita masih tergolong hemat atau sudah bergeser menjadi pelit, kita bisa melihatnya dari beberapa indikator harian berikut:

  • Mengabaikan Hak Diri dan Keluarga
    Berhemat bertujuan untuk menjaga kesejahteraan. Jika seseorang menahan pengeluaran hingga menelantarkan kesehatan, menolak membeli makanan bergizi atau mengurangi hak nafkah keluarga yang menjadi kewajibannya demi sekadar menumpuk tabungan, maka sikap tersebut sudah memasuki kategori kikir.
  • Merasakan Berat Saat Mengeluarkan Hak Orang Lain
    Orang yang berhemat tetap memperhitungkan kewajiban sosial dan agama. Sementara itu, sifat pelit ditandai dengan munculnya rasa berat atau enggan ketika harus menunaikan zakat, bersedekah atau berbagi dengan sesama.

Sifat kikir ini sangat diwanti-wanti dalam Islam. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jauhilah oleh kalian sifat kikir (pelit), karena sesungguhnya sifat kikir itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian…” (HR. Muslim No. 2578)

Selain itu, setiap pagi ada pengingat spiritual tentang bagaimana harta kita diperlakukan. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa para malaikat berdoa setiap hari:

“Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang menginfakkan hartanya. Dan Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya.” (HR. Bukhari No. 1442)

Baca juga: Kaya Hati, Lapang Rezeki

Bijak Mengelola Harta, Luaskan Keberkahan

Pada akhirnya, berhemat adalah bentuk kecerdasan finansial dan tanggung jawab atas rezeki yang Allah ﷻ titipkan. Sedangkan bersedekah adalah bentuk rasa syukur sekaligus pembersih bagi harta yang kita miliki. Keduanya tidak saling bertolak belakang, melainkan saling melengkapi.

Sembari kita terus belajar mengelola keuangan secara bijak dan proporsional di rumah, mari luaskan keberkahan rezeki tersebut untuk kemakmuran rumah Allah ﷻ.

Di saat kita dapat beribadah dengan tenang di masjid yang nyaman, masih banyak saudara Muslim di wilayah pelosok Indonesia yang harus beribadah di bangunan lapuk, sempit dan rawan roboh.

Yuk, alirkan pahala jariyah yang terus mengalir! Bersama Masjid Nusantara, mari hadirkan masjid yang kokoh, layak dan nyaman bagi warga di pelosok negeri. 

[Klik disini untuk salurkan infak dan sedekah terbaikmu ke program Bangun Masjid Pelosok!]

Semoga waktu dan rezeki yang kita gunakan untuk membangun Masjid di Pelosok ini akan bermanfaat dan menjadi amal jariyah sebagai penolong kita sampai ke akhirat nanti.**

Sumber foto: Jakub zerdzicki – Unsplash.

Categories: Artikel