Dug! Tak Dug!
Suara bedug masjid menyimpan cerita yang lebih panjang daripada sekadar penanda waktu shalat. Kehadirannya berkaitan dengan sejarah, kebudayaan dan cara masyarakat Muslim di Nusantara membangun kehidupan beragama.
Lantas, bagaimana awal mula bedug digunakan di masjid? Apakah bedug masih memiliki fungsi di zaman modern? Yuk, kenali sejarahnya!
Akulturasi Bedug dengan Islam di Nusantara
Dalam perkembangan Islam di Nusantara, masyarakat Indonesia telah mengenal alat tabuh sejak sebelum Islam berkembang luas. Alat semacam ini digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk untuk menyampaikan tanda atau mengumpulkan masyarakat.
Ketika Islam berkembang di Nusantara, tradisi penggunaan alat tabuh kemudian beradaptasi dengan kehidupan masyarakat Muslim. Bedug menjadi salah satu bentuk perpaduan antara tradisi lokal dan praktik keagamaan yang berkembang di sejumlah daerah.
Seiring waktu, penggunaannya mengalami penyesuaian dan menjadi bagian dari tradisi di sejumlah masjid, terutama di Jawa.
Dalam perkembangannya, bedug kerap ditempatkan di serambi masjid dan ditabuh menjelang adzan. Di beberapa tempat, bedug juga digunakan bersama kentongan untuk menandai waktu atau menyampaikan isyarat tertentu kepada masyarakat.
Tradisi ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Itulah sebabnya bedug masih dapat kita temukan di sejumlah masjid tradisional hingga sekarang.
Peran Penting Bedug di Masjid
Pada masa ketika teknologi pengeras suara belum digunakan secara luas, masyarakat membutuhkan cara untuk menyampaikan informasi kepada warga di sekitar masjid.
Bedug menjadi salah satu sarana yang membantu memenuhi kebutuhan tersebut. Suaranya yang khas dan dapat terdengar dari kejauhan membuatnya berguna sebagai penanda bagi masyarakat.
Ada beberapa fungsi bedug yang dikenal dalam tradisi masjid di Indonesia.
1. Menandai waktu shalat
Bedug biasanya ditabuh menjelang adzan atau ketika waktu shalat tiba. Bunyinya menjadi tanda bagi masyarakat bahwa waktu ibadah telah masuk dan mereka dapat bersiap menuju masjid.
Namun, perlu dibedakan bahwa bedug berfungsi sebagai penanda tambahan, sedangkan adzan merupakan panggilan untuk melaksanakan shalat.
2. Membantu mengumpulkan masyarakat
Di lingkungan yang belum memiliki sarana komunikasi modern, suara bedug dapat menarik perhatian warga. Bunyi tersebut membantu menyampaikan tanda bahwa ada kegiatan atau momen tertentu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
3. Menandai momen keagamaan
Di sejumlah daerah, bedug juga ditabuh pada momen khusus, seperti menjelang berbuka puasa, malam takbiran atau perayaan hari raya Islam.
Kebiasaan ini berkembang sebagai tradisi setempat. Pelaksanaannya berbeda-beda di setiap daerah, tetapi bagi masyarakat yang menjaganya, suara bedug menjadi bagian dari suasana kebersamaan.
Dengan demikian, bedug dahulu bukan sekadar benda yang disimpan di masjid. Ia menjadi salah satu sarana komunikasi yang menghubungkan masjid dengan masyarakat di sekitarnya.
Merawat Tradisi, Memakmurkan Masjid
Kini, fungsi praktisnya mungkin tidak lagi sama seperti dahulu. Ada bedug yang masih ditabuh secara rutin, digunakan saat momen tertentu dan dipertahankan sebagai warisan sejarah.
Pada akhirnya, kemakmuran masjid bukan ditentukan oleh ada atau tidaknya bedug. Yang lebih penting adalah bagaimana masjid menjadi tempat umat mendekatkan diri kepada Allah ﷻ menuntut ilmu, mempererat persaudaraan dan menebarkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Di pelosok Nusantara, masih ada saudara-saudara Muslim kita yang membutuhkan tempat ibadah yang layak untuk shalat, belajar Al-Qur’an dan menjadi tempat yang nyaman untuk berkumpul.
Melalui Program Bangun Masjid Pelosok, Masjid Nusantara mengajak Sobat Masjid untuk menjadikan sebagian rezekinya sebagai jalan menghadirkan masjid yang layak bagi mereka.
[Klik disini untuk ikut berdonasi Bangun Masjid Pelosok sekarang!]
Mari terus memakmurkan masjid, menjaga tradisi yang baik dan menjadikan rumah Allah ﷻ sebagai pusat tumbuhnya kebaikan bagi umat.**
Referensi: Sejarah bedug sebagai simbol budaya dalam tradisi Islam Indonesia – AntaraNews.
Sumber foto: Mufid majnun – Unsplash.






