Jun 5, 2026

Menyukai Orang yang Sudah Punya Pasangan, Haruskah Mundur? 

Saat kamu mulai tertarik pada seseorang, di mana hati berdegup kencang mendengar namanya. Merasa nyaman berada di dekatnya dan perlahan mulai menyimpan rasa. 

Namun, ada suatu kenyataan yang membuat semuanya terasa rumit “ternyata dia yang kamu kagumi, sudah ada yang memiliki.”

Entah dia sudah berstatus pacaran, ta’aruf atau bahkan sudah mengenakan cincin pernikahan di jarinya. 

Menyukai orang yang sudah punya pasangan sama saja dengan berada dalam dilema besar. Ada rasa sesak dalam dada mengenai ‘apakah harus tetap maju memperjuangkannya atau haruskah mundur mengubur rasa tersebut rapat-rapat?’

Ini bukan hanya tentang cinta, tetapi juga tentang akhlak, batasan dan cara seorang muslim menjaga hatinya.

Perasaan Itu Datang Tanpa Diundang

Munculnya perasaan atau rasa suka bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan dengan mudah dan jatuh cinta tidak pernah salah.

Namun, yang seringkali keliru adalah bagaimana kita mengelola perasaan tersebut. Ujiannya terletak pada apa yang akan dilakukan setelah perasaan itu muncul.

Hati manusia bisa tertarik pada siapa saja, baik dalam mengagumi ataupun menyukai orang yang sudah memiliki pasangan. Jika itu terjadi, bagaimana sebaiknya kita bersikap?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepada sahabatnya:

Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa. Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim no. 2376).

Ketika kita tahu dia sudah milik orang lain, tetapi kita tetap memilih maju, sengaja mendekatinya, mencoba merusak hubungannya dengan pasangannya atau menjalin hubungan tanpa ikatan sah. Maka, kita sedang memenuhi kecenderungan hati itu pada jalur yang haram. Ujungnya sudah pasti adalah dosa dan hilangnya ketenangan batin. 

Sebaliknya, ketika kita sadar posisi kita salah arah, lalu kita memilih untuk menahan diri, membatasi interaksi dan memilih mundur karena ingin menjaga kesucian hati sampai nanti Allah ﷻ datangkan orang yang benar-benar halal untuk kita. Maka, setiap detik perjuanganmu menahan rasa sakit itu dicatat sebagai ladang pahala yang besar oleh Allah ﷻ. 

Kapan Harus Mulai Mundur dan Menjaga Jarak?

Ketika seseorang memilih menjaga batas dan tidak mengganggu hubungan orang lain, bukan berarti ia kehilangan kesempatan untuk bahagia.

Justru bisa jadi Allah ﷻ sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik. 

Jika memang seseorang ditakdirkan untuk menjadi pasangan kita, Allah ﷻ  mampu mempertemukannya melalui cara yang baik di waktu yang tepat. Namun, jika bukan, maka memaksakan keadaan hanya akan menimbulkan luka bagi banyak pihak.

Oleh karena itu, jika kamu berada di posisi ini, menyukai orang yang sudah mempunyai pasangan. Kamu harus mulai menarik diri untuk mundur dan menjaga batas ketika:

  1. Kamu mulai berharap hubungan dia dan pasangannya retak

Berhati-hatilah jika hatimu mulai bahagia ketika mengetahui dia sedang bertengkar dengan pasangannya.

  1. Kehadiranmu mulai mengganggu komitmen mereka

Saling mengirim pesan hingga larut malam bahkan menjadi tempat curhat yang terlalu personal (deep talk), itu merupakan pintu awal rusaknya sebuah hubungan.

  1. Hati kecilmu merasa tidak tenang

Allah ﷻ senantiasa memberikan sinyal ke dalam hati hamba-hambanya. Jika ada rasa bersalah yang terus muncul setiap kali kamu berinteraksi dengannya, itu adalah petunjuk, itu adalah tanda agar kamu berhenti.

Menolak untuk menjadi orang ketiga memang berat dan butuh perjuangan batin yang luar biasa; tetapi Allah ﷻ  tidak pernah menutup satu pintu kesenangan, kecuali Dia telah menyiapkan pintu lain yang jauh lebih berkah dan berpahala.

Mengendalikan sikap bukan berarti kita mematikan rasa, melainkan bentuk kepatuhan kita untuk menabung rasa cinta tersebut sampai saatnya tiba di pelaminan yang halal nanti. 

Berani Mundur dan Menjemput Berkah

Menata kembali hati yang sempat salah arah memang butuh waktu dan ruang. Salah satu cara terbaik untuk mengalihkan energi emosional yang melelahkan ini adalah dengan memperluas kebermanfaatan diri kita kepada dunia luar. 

Daripada menghabiskan energi untuk memikirkan seseorang yang tak bisa dimiliki, kita bisa mengalirkan ketulusan hati kita kepada mereka yang benar-benar membutuhkan uluran tangan. 

Bersama Masjid Nusantara, kamu bisa menyalurkan energi kebaikanmu untuk ikut serta membangun dan memakmurkan rumah-rumah Allah di pelosok negeri. Mengubah rasa sesak di dada menjadi bentangan pahala jariyah yang menenangkan jiwa, sembari percaya bahwa di saat yang tepat, Allah  akan mendatangkan seseorang yang benar-benar dituliskan untuk menjadi jodohmu tanpa ada hati lain yang terluka. 

Yuk jadi bagian dari kebaikan! dengan bersedekah pada program ini sekarang:
[Masjid Pelosok – Masjid Nusantara]

Sumber foto: Udia saransi – Unsplash.

Categories: Artikel