May 29, 2026

Inilah 3 Cara Unik, Warga Pelosok Mengawetkan Daging Tanpa Kulkas!

Untuk masyarakat perkotaan, menyimpan daging sangatlah praktis. Cukup masukan ke dalam kantong atau wadah plastik, buka pintu kulkas, taruh ke dalam freezer dan selesai! Daging ayam, sapi dan domba dijamin awet untuk beberapa minggu kedepan.

Namun, pernahkah Sobat Masjid membayangkan gimana caranya warga di pelosok menyimpan daging? Apalagi jika di desa atau kampungnya tersebut tidak ada listrik bahkan kulkas. 

Yuk, kita intip 3 cara unik mengawetkan daging tanpa kulkas ala warga pelosok Indonesia berikut ini!

3 Cara Tradisional Mengawetkan Daging di Pelosok

  1. Se’i (Diasap di Rumah Bulat) – Rote Ndao, NTT

Masyarakat Rote Ndao punya cara pengasapan yang sangat khas untuk membuat Se’i. Daging diiris memanjang, dibumbui, lalu ditempatkan di atas bara api dari kayu kosambi. 

Proses pengasapan ini umumnya dilakukan di dalam Ume Kbubu (rumah bulat tradisional) yang celah–celah sirkulasi udaranya sengaja diatur agar asap mengepul optimal. Efek asap dan getah daun kosambi bertindak sebagai pengawet alami sekaligus pemberi aroma yang pekat.

  1. Ni’owuru (Diasinkan dengan Garam Melimpah) – Nias, Sumatera Utara

Masyarakat Nias di Sumatera Utara punya teknik pengawetan yang bertumpu pada kekuatan kristal garam, yang dikenal dengan nama Ni’owuru. 

Daging segar dipotong-potong lalu dilumuri garam dalam jumlah yang sangat banyak hingga seluruh permukaannya tertutup rapat. Garam akan menyerap kelembaban alami daging sehingga bakteri pembusuk tidak bisa hidup. 

Daging asin tradisional ini kemudian disimpan di dalam wadah tertutup dan bisa bertahan hingga hitungan tahun. 

  1. Rarit (Dijemur hingga Kering) – Lombok Timur, NTB 

Nah Sobat Masjid, di Dusun Harum Manis, Lombok Timur sebagai salah satu tempat didistribusikannya program Kurban Masjid Pelosok dari Masjid Nusantara ada sebuah tradisi kuliner sekaligus teknik pengawetan bernama Rarit.

Seperti yang dilakukan oleh Nenek Sahram (80 tahun) ini, daging sapi atau domba akan diiris tipis-tipis, dibumbui dengan rempah khas, lalu dijemur di bawah terik matahari hingga benar benar kering tanpa sisa kadar air. 

Tekstur rarit yang kering sempurna setelah di jemur 2-3 hari, membuat daging rarit ini bisa disimpan berbulan bulan dan biasanya dikeluarkan kembali menjadi hidangan istimewa saat ada acara adat atau berkumpul bersama keluarga. 

Ketiga cara di atas, menjadi bukti bahwa warisan tradisi leluhur di berbagai pelosok Indonesia sangatlah unik. Cara-cara yang mereka jaga secara turun temurun itu memberikan kita tambahan ilmu pengetahuan, untuk bisa menjaga daging tetap layak dikonsumsi dalam waktu lama tanpa mengandalkan kulkas.

Categories: Artikel