May 15, 2026

Ketika Pintu Masjid Sering Ditutup, Kehidupannya Perlahan Meredup.

Dulu itu masjid rasanya ‘hidup banget’, terasa ramai dan hangat sampai malam hari.

Sekarang?

Di beberapa tempat, setelah dzikir dan doa selesai, pintu masjid langsung ditutup lagi. Aktivitas makin sedikit, ruang kumpul makin sempit dan masjid perlahan cuma jadi tempat menunaikan ibadah sholat yang pada akhirnya kosong kembali.

Masalahnya bukan sekadar pintu masjid yang ditutup dan dikunci karena memang menjaga dan merawat fasilitas masjid itu sangat penting. Namun, jangan sampai kita biarkan ruang kehidupan di dalam masjid perlahan-lahan juga ikut tertutup dan meredup.

Ramainya Masjid Hanya Ketika Adzan

Coba ingat-ingat lagi.

Berapa banyak masjid hari ini yang benar-benar hidup selain di waktu sholat?

Ramai pas adzan, penuh pas iqamah, tetapi selepas salam dan doa, langsung kosong. Jamaah pulang, pintu ditutup dan masjid pun kembali sunyi.

Padahal dulu, masjid itu bukan cuma jadi tempat ibadah wajib 5 waktu. Pintu masjid lama terbuka dan disana menjadi tempat orang-orang berkumpul, belajar, bermusyawarah dan tempat tumbuhnya hubungan antargenerasi yang berlomba-lomba saling mengejar keberkahan dan ridhonya  Allah ﷻ.

Sayangnya, kini atmosfer kehidupan jamaah di masjid perlahan menghilang. Aktivitas belajar mengaji anak-anak setiap hari semakin berkurang dan hanya diisi oleh agenda rutinan orang dewasa tiap minggunya.

Dilema Persoalan Anak Remaja dan Anak Kecil

Banyak orang bilang kalau generasi sekarang makin jauh dari masjid. 

Anak mudanya sibuk gadget.

Remajanya lebih betah nongkrong sampai malam.

Anak kecilnya berisik dan gak jarang bikin suasana gak kondusif.

Coba dipikir-pikir lagi, persoalan ini mungkin gak bisa dibebankan hanya kepada anak-anak dan remaja saja. 

Kalau ditarik ke belakang, semua orang dewasa yang hari ini nyaman berada di masjid juga pernah menjadi anak kecil dan anak remaja yang belajar pelan-pelan mengenal adab di dalamnya.

Padahal, kedekatan seseorang dengan masjid biasanya tumbuh sejak kecil. Dari balik pintu masjid yang terdengar suara membaca Iqra dengan terbata-bata, dari duduk di saf paling belakang dan dari hal-hal kecil yang pelan-pelan bikin kita ngerasa dekat sama masjid.

Mungkin karena itu, persoalan ini sebenarnya membutuhkan banyak peran bersama. Bukan hanya para pengurus DKM saja.

Orang tua jangan cuma menyuruh anak-anaknya datang ke masjid. Kalian perlu ikut hadir dan mengajarkan adab bagaimana seharusnya bersikap di rumah ibadah. 

Begitu juga dengan jamaah dewasa yang harus lebih sabar dalam mengarahkan dan mendampingi para remaja yang perlu ruang untuk dilibatkan dalam kegiatan di masjid.

Karena kalau semua pihak cuma saling menyalahkan, yang rugi akhirnya masjid itu sendiri.

Dan jangan sampai, demi menjaga fasilitas, barang-barang, dan ketertiban masjid hari ini, kita justru perlahan kehilangan generasi yang seharusnya ikut menjaga dan memakmurkannya di masa depan.

Masjid Bukan Hanya untuk Dijaga, Tapi Juga Dihidupkan Bersama

Kotak amal perlu dijaga, karpet, sajadah, Al-Qur’an dan fasilitas lain harus dirawat.

POV pengurus DKM kalau gak tutup pintu masjid setelah sholat bisa aja khawatir jika amanahnya tidak terjaga, takut fasilitas rusak dan takut kalau kegiatan di dalamnya kurang serius.

Di sisi lain, masyarakat dan jamaah akhirnya cuma menjadi ‘tamu’ ketika sholat. 

Makanya, yang dibutuhkan hari ini bukan cuma soal ‘tutup dan kunci pintu masjid agar aman’, tetapi bagaimana caranya supaya semua orang ikut bertanggung jawab dan ikut menjaga.

Pengurus masjid bisa mulai membuka ruang buat anak muda dan para remaja untuk ikut terlibat. Mulai dengan memberikan jadwal piket harian dan jadwal kelas mengaji khusus mengajar anak-anak kecil, biar masjid kembali terasa hidup dan gak kaku lagi.

Nah untuk anak mudanya juga harus menunjukkan kalau mereka datang bukan cuma pas lagi semangatnya aja. Namun, harus konsisten ikut jaga kebersihan, bantu merawat fasilitas dan jaga batasan ketika berada di dalam masjid.

Peran orang tua juga gak kalah penting. Ingat ya, jangan cuma menyuruh anaknya berangkat ngaji atau sholat berjamaah sendiri, tetapi orang tua harus ikut datang membimbing pelan-pelan biar anak-anak ngerti caranya menjaga masjid dengan benar.

Soal keamanan masjid itu gak selalu harus bergantung dengan menutup pintu dan mengunci masjid setelah beribadah. 

Malahan, keamanan masjid itu akan ada ketika banyak orang sekitar merasa kalau masjid itu ‘rumah bersama’ dan harus dijaga bareng-bareng.

Ketika rasa itu mulai tumbuh, masjid biasanya ikut hidup dengan sendirinya. Bahkan, pengurus masjid gak lagi merasa harus selalu menjaga pintu masjid dan merawat semua fasilitas masjid sendirian.

Pada akhirnya, memakmurkan masjid itu bukan cuma soal bangunannya harus tetap aman dan bersih. Tapi juga soal bikin semua orang nyaman untuk datang, bikin semua orang merasa diterima untuk hadir dan jadi tempat tiap generasi untuk bertumbuh. 

Masjid Sepi? Sedih, Apalagi Kalo Kurang Layak

Kalau hari ini kita sedih melihat masjid-masjid berdiri kokoh tetapi dibalik pintu masjid tersebut hanya ada sepi sunyi, bayangkan bagaimana sedihnya saudara-saudara kita di pelosok yang banyak memiliki masjid dengan kondisi belum layak.

Tempat wudhu yang kurang memadai, sajadah dan Al-Qur’an yang terbatas, hingga bangunan kayu yang mungkin hampir roboh.

Padahal di sanalah anak-anak belajar mengaji dan warga berkumpul melakukan berbagai kegiatan positif di dalamnya. 

Melalui program “Masjid Pelosok” dari Masjid Nusantara, kita bisa ikut menghadirkan masjid yang lebih baik untuk saudara-saudara kita di pelosok.

Kita bisa ikut bantu membangun masjid pelosok yang lebih layak sehingga kehidupan jamaah di dalamnya bisa jauh lebih nyaman! 

Yuk donasi sekarang dengan klik link di bawah ini:

[Program Masjid Pelosok-Masjid Nusantara]

Sumber foto: M.Emin BİLİR – Pexels.

Categories: Artikel