Artikel

Kisah Seorang Anak Gaza Tentang Ibunya

Ibuku menolak mengizinkan siapapun menulis di tubuh kami.

Ia memanggil kami masuk ke dalam tenda dan di antara jari-jemarinya yang kering, ia memegang pulpen tinta hitam yang sangat ia cintai dan sempat ia sembunyikan di laci perpustakaan.

Ibu memulai dariku, “Ahmad, sini, Nak.”

Diiringi hujan kecupan, ibu menulisi telapak tangan kiri dan kananku, lengan, punggung, juga paha kanan dan kiriku.

Ia menulis di perutku, di telapak kaki, dan di dadaku.

Lalu, Ibu memanggil adik perempuanku, Hiba, dan menulis informasi yang sama tetapi dengan nama dan usia Hiba yang berumur lima tahun.

Rashid yang berumur tiga tahun adalah yang berikutnya, tetapi tubuh kecilnya tidak bisa memuat semua kata-kata itu.

Ibu menghela nafas dan berkata, “Rashid tidak akan hilang dari kita. Mereka akan mengenalinya, dia akan tetap di pangkuanku.”

Tak lama kemudian, Ibu memandang kami dengan senyum kecil seraya berkata, “Jangan takut, aku menulis di tubuhku, di mana-mana, bahwa aku adalah ibu dari Ahmad, Rashid, dan Hiba–dan aku menulis bahwa aku adalah istri dari Asy-Syahid Fahmi Saleh.”

“Mereka akan menyatukan kita. Mereka akan menyatukan kita…meskipun tubuh kita hancur berkeping-keping.”

Sumber: Myriam Boulos

Foto: Republika, Seattle Times, Okezone, CNBC Indonesia, Tribunnews, KTSM, Sky