Kalau kemanusiaan tidak mengenal agama, lalu mengapa kita yang mengaku punya ikatan iman dengan Palestina justru mulai terbiasa dengan penderitaan mereka di sana?
Di belahan bumi sebelah barat, ribuan orang memenuhi jalanan kota. Di antaranya ada musisi, aktor Hollywood, hingga warga biasa yang tidak memeluk agama Islam. Mereka rela kehilangan kontrak kerja, diancam blacklisting, hingga ditangkap aparat demi menyuarakan satu kata: kebebasan untuk Palestina.
Kok bisa?
Penderitaan Palestina belum selesai. Sebagai Muslim harus lebih peduli dan jangan sampai perhatian kita selesai hanya karena beritanya sudah tidak seramai dulu.
Dunia Masih Bersuara, Bahkan dari Mereka yang Bukan Muslim
Pada September 2026, rapper Amerika Serikat Macklemore kembali menjadi sorotan karena sikap vokalnya terhadap Palestina.

Potret dukungan Macklemore untuk Palestina di acara konsernya.
sumber foto: instagram @macklemore.
Ia dikeluarkan dari rangkaian tur Ed Sheeran setelah kontroversi terkait pernyataannya tentang Palestina. Macklemore kemudian menyatakan akan menyumbangkan 1 juta dolar AS dari pendapatan bersih turnya kepada sejumlah organisasi yang membantu Palestina.
Ketika melihat manusia kehilangan rumah, anak-anak hidup dalam ketakutan, keluarga kehilangan orang yang mereka cintai, rasa peduli tidak seharusnya baru muncul setelah kita bertanya, “Mereka satu agama denganku atau bukan?”
Islam sendiri mengajarkan rahmat kepada manusia. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayangi oleh Allah ﷻ.” (HR. Sahih Muslim – 2319).
Palestina Belum Selesai Hanya Karena Timeline Kita Sudah Berganti
Ketika sebuah isu terus muncul di beranda, kita merasa dekat dengannya. Kita membaca, membagikan, berdonasi, berdiskusi, bahkan ikut menyuarakannya.
Tetapi ketika algoritma membawa kita kepada isu lain, perhatian kita perlahan ikut berpindah.
Padahal kondisi kemanusiaan di Gaza belum otomatis selesai hanya karena perhatian publik berkurang.

Potret keadaan anak-anak di Gaza yang masih berada di bawah serangan Israel
sumber foto: Mohammed ibrahim – Unsplash.
Laporan OCHA pada September 2026 masih mencatat dampak kemanusiaan yang berat di Gaza. OCHA juga terus menerbitkan pembaruan mengenai korban, kerusakan, pengungsian, akses bantuan dan kebutuhan dasar masyarakat di wilayah tersebut.
Jadi Stop! mengukur pentingnya Palestina dari seberapa sering namanya muncul di timeline.
Viralitas punya umur. Penderitaan manusia tidak!
Jangan Menjadi Raksasa yang Tertidur
Kalau bicara Indonesia, sebenarnya tidak tepat mengatakan bahwa negeri ini sama sekali tidak melakukan apa-apa untuk Palestina.
Dukungan kemanusiaan Indonesia untuk Palestina, tercatat melalui berbagai jalur.
Salah satunya pada Agustus 2026, Yayasan Masjid Nusantara menjadi bagian dalam misi kemanusiaan untuk Palestina melalui “Konsorsium Kebaikan Indonesia di Mesir.” Bersama 13 lembaga lainnya, membawa bantuan bagi masyarakat Palestina, khususnya anak-anak dan keluarga Gaza yang berada di Mesir serta masyarakat terdampak krisis kemanusiaan.
Artinya, dukungan itu ada.
Tetapi pertanyaannya sekarang bergeser kepada kita sebagai masyarakat:
“Apakah kepedulian itu masih hidup dalam keseharian masyarakat kita?”
Masyarakat punya peran untuk menjaga agar sebuah tragedi tidak berubah menjadi sesuatu yang biasa. Dari suara warga, akan mendorong dukungan negara dan gerakan organisasi kemanusiaan memberi bantuan yang lebih banyak.
Terlebih bagi kita yang mayoritas penduduknya sebagai Muslim.
Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan sesama orang beriman, beliau bersabda:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam perilaku saling mencintai, kasih sayang dan tolong-menolong di antara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh mengalami sakit, maka sekujur tubuh ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan merasakan demam.” (HR. Ṣaḥīḥ Muslim – 2586).
Maka ketika saudara-saudara kita di Palestina masih menghadapi penderitaan, jangan biarkan jarak ribuan kilometer membuat hati kita ikut berjarak.
Kita Tidak Harus Melakukan Hal yang Sama untuk Tetap Peduli
Kita hanya perlu memastikan hati kita tidak ikut mati rasa.
Palestina mungkin jauh dari rumah kita. Beritanya mungkin tidak lagi memenuhi beranda. Dan perhatian dunia mungkin naik-turun mengikuti berbagai peristiwa.
Tetapi penderitaan Palestina tidak menjadi kurang hanya karena beritanya tak lagi viral.
Teruslah membersamai dengan cara yang mampu kita lakukan. Teruslah mendoakan, membantu, mengedukasi dan menyuarakan kemanusiaan.
Jangan hentikan kepedulian kita dengan bersantai-santai, karena penderitaan Palestina pun belum selesai.
[Klik disini untuk salurkan infak dan sedekah terbaikmu ke program Bangun Palestina!]
Mari bersama Masjid Nusantara mengambil bagian membantu saudara di Palestina. Banyak orang Indonesia juga masih bergerak dan Dunia pun masih bersuara.






