FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari orang lain.
Islam telah mengajarkan cara menghadapi perasaan ini melalui sikap tenang dari Rasulullah ﷺ . Yang dimana bagian paling indahnya adalah ketenangan Rasulullah ﷺ itu bukan datang karena hidupnya bebas tanpa masalah, tetapi karena ada hati yang kuat dan percaya kepada pengaturan Allah ﷻ.
Mengapa Kita Selalu Merasa Kurang?
Allah ﷻ mengetahui tabiat manusia yang mudah terpikat oleh apa yang dimiliki orang lain. Karena itu, Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat indah.
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaha: 131)
Allah ﷻ mengingatkan agar kita tidak terus-menerus memusatkan perhatian pada kenikmatan yang dimiliki orang lain, karena bisa jadi itu hanyalah ujian bagi mereka, sebagaimana keterbatasan yang kita alami juga merupakan ujian bagi kita.
Pilar Ketenangan Jiwa ala Rasulullah
1. Qana’ah: Kaya Jiwa
Qana’ah ialah rasa cukup dan rela terhadap apa yang Allah ﷻ bagikan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa standar kekayaan bukanlah kepemilikan materi yang melimpah, melainkan kondisi hati yang lapang. Beliau bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sejati adalah kaya jiwa.” (HR. Muslim)
Dengan sifat ini, seseorang tidak akan mudah tergoyahkan oleh tren atau barang baru yang dimiliki orang lain, karena ia tahu bahwa kecukupan sejati berada di dalam hatinya.
2. Belajar Mengubah Arah Pandangan
Media sosial memaksa kita untuk terus menengadah ke atas, melihat mereka yang lebih beruntung daripada kita. Padahal, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)
Melalui cara ini, kita bisa lebih fokus mengisi hati dan pikiran dengan kesadaran betapa banyaknya nikmat dari Allah ﷻ yang telah kita terima.
3. Menaruh Dunia di Tangan, Bukan di Hati
Al-Qur’an menggambarkan sikap ideal seorang muslim terhadap dinamika dunia:
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al-Hadid: 23)
Oleh sebab itu, simpanlah ‘urusan dunia’ di tangan untuk dimanfaatkan, bukan di hati untuk dipertuankan.
4. Berani Meninggalkan Hal yang Tak Bermanfaat
Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya menyaring apa yang masuk ke dalam pikiran dan jiwa kita:
“Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)
Menerapkan hadits ini dalam konteks FOMO berarti berani berhenti mengikuti tren media sosial yang berisi hal-hal konsumerisme semata, yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri.
Merdeka dari FOMO & Merdekakan Mereka di Pelosok
Saat kita belajar merasa cukup, jangan lupa untuk melihat saudara-saudara kita di pelosok pedalaman yang masih berjuang memiliki tempat ibadah yang layak.
Salurkan rasa syukur atas nikmat yang kamu miliki hari ini dengan menghadirkan ruang sujud yang nyaman bagi mereka melalui program Masjid Pelosok.
[Klik disini untuk ikut berdonasi Bangun Masjid Pelosok sekarang!]
Semoga setiap doa, sujud dan ayat Al-Qur’an yang dilantunkan di dalamnya menjadi amal jariyah bagi Sobat Masjid yang terus mengalir hingga akhirat.
Sumber foto: Idris hasibuan- Unsplash.






