Sep 9, 2026

Tertipu Waktu: Ketika Hal Sia-sia Mengikis Keberkahan Hari

Pernahkah kamu merasa baru saja membuka ponsel sebentar, tapi tiba-tiba satu jam berlalu begitu saja? Padahal, jumlah detik dan menit setiap hari tidak pernah berkurang. 

Namun, kenapa rasanya waktu berjalan semakin cepat dan kita selalu kehabisan hari? Realitanya, kita sering kali tertipu waktu. Bukan karena waktu benar-benar berjalan lebih cepat, tetapi karena kita sering merasa masih punya banyak kesempatan. 

Kita menunda pekerjaan, menunda ibadah, menunda belajar, bahkan menunda melakukan kebaikan karena berpikir, “Nanti saja, masih ada waktu.”

Padahal, setiap hari kita hanya diberi waktu yang sama: 24 jam. Yang membedakan bukan banyak atau sedikitnya waktu, melainkan ke mana waktu itu kita bawa. 

Waktu bukan sekadar sesuatu yang berlalu. Ada bagian dari hidup kita yang ikut pergi bersamanya. 

Bukan Kehilangan Waktu, Tapi Salah Menggunakannya

Tidak semua waktu luang harus diisi dengan aktivitas serius. Kita tetap membutuhkan istirahat, hiburan, bercengkerama atau sekadar menikmati hari tanpa melakukan banyak hal.

Masalahnya muncul ketika “sebentar” berubah menjadi berjam-jam, sementara hal-hal yang penting terus kita tunda.

Rasulullah ﷺ mengingatkan:

Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya, yakni: kesehatan dan waktu luang. (HR. Bukhari)

Baca juga: POV: Baru Sadar kalau Nikmat Sehat Itu Ternyata Sebesar Ini

Menariknya, Rasulullah ﷺ menggunakan gambaran tentang tertipu atau mengalami kerugian. Seolah-olah kita memiliki sesuatu yang berharga, tetapi tidak menyadari nilainya sampai sesuatu itu hilang.

Begitulah waktu.

Saat masih memilikinya, kita merasa biasa saja. Namun ketika kesempatan sudah lewat, barulah kita sadar bahwa ada banyak hal yang sebenarnya ingin kita lakukan.

Mari belajar menjaga waktu dengan mampu membedakan: mana yang memang membuat kita beristirahat dan mana yang hanya membuat waktu berlalu tanpa memberi arti.

Terkadang, yang Merusak Tidak Selamanya Terlihat

Hal yang sia-sia sering kali tidak datang dalam bentuk sesuatu yang jelas-jelas buruk.

Kadang ia hadir sebagai kebiasaan kecil yang terasa tidak seperti sebuah masalah.

Lima menit menunda pekerjaan.
Sepuluh menit membuka media sosial.
Setengah jam menonton sesuatu yang sebenarnya tidak kita butuhkan.
Satu malam tidur terlalu larut karena terus mengejar hiburan.

Sekali dilakukan mungkin terasa sepele. Tetapi jika berulang setiap hari, kerugian waktunya bisa menjadi sangat besar.

Baca juga: Hijrah Digital: Mengubah Screen Time Menjadi Waktu yang Bermanfaat

Dalam surah Al-‘Asr, Allah ﷻ mengingatkan manusia bahwa:

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3)

Maka, untuk mengurangi kerugian kita dalam menyia-nyiakan waktu/masa, marilah kita mulai berubah rutinitas kecil kita setiap harinya.

Saat ada waktu luang, coba gunakan sebagian untuk membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Ketika ada kesempatan, bantulah orang lain. Jika ada pekerjaan penting menunggu, selesaikan sebelum kembali mencari hiburan atau berleha-leha.

Sebab keberkahan waktu tidak selalu berarti kita melakukan lebih banyak hal.

Kadang, keberkahan hadir ketika sedikit waktu yang kita punya mampu membawa manfaat yang lebih panjang.

Jangan Biarkan Waktu Berlalu Tanpa Meninggalkan Kebaikan

Salah satu cara sederhana untuk menjaga waktu adalah mengubah sebagian kesempatan yang kita punya menjadi amal yang manfaatnya bisa dirasakan orang lain. 

Melalui program Bangun Masjid Pelosok, Masjid Nusantara mengajak kita ikut mengambil bagian dalam menghadirkan masjid yang layak bagi masyarakat pelosok yang membutuhkan.

Mari ubah sebagian waktu dan rezeki yang Allah ﷻ titipkan kepada kita menjadi kebaikan yang terus memberi manfaat kepada sesama.

[Klik disini untuk salurkan infak dan sedekah terbaikmu ke program Bangun Masjid Pelosok!]

Semoga waktu dan rezeki yang kita gunakan untuk membangun Masjid di Pelosok ini akan bermanfaat dan menjadi amal jariyah sebagai penolong kita sampai ke akhirat nanti.**

Sumber foto: Vitaly gariev – Unsplash.

Categories: Artikel