Bagi umat Islam, Kalender Hijriah merupakan sistem penanggalan yang menjadi pedoman dalam menjalankan berbagai ibadah. Melalui kalender inilah seorang Muslim mengetahui kapan memasuki bulan Ramadhan, kapan melaksanakan ibadah haji, kapan datangnya bulan-bulan haram, hingga waktu-waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh.
Lalu, mengapa Islam memiliki kalender sendiri? Apa fungsi Kalender Hijriah dalam kehidupan seorang Muslim?
Allah ﷻ Menjadikan Peredaran Bulan sebagai Penentu Waktu bagi Manusia
Kalender Hijriah menggunakan sistem qamariyah atau peredaran bulan mengelilingi bumi. Berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan peredaran bumi mengelilingi matahari (syamsiyah), kalender Hijriah disusun berdasarkan kemunculan hilal pada setiap awal bulan.
Landasan penggunaan bulan sebagai penentu waktu telah dijelaskan langsung dalam Al-Qur’an.
Allah ﷻ berfirman:
“Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang bulan sabit. Katakanlah, ‘Itu adalah penanda waktu bagi manusia dan (ibadah) haji.’…” (QS. Al-Baqarah:189)
Ayat ini menunjukkan bahwa keberadaan hilal bukan hanya fenomena astronomi, tetapi juga menjadi penanda waktu yang berkaitan dengan kehidupan manusia, terutama pelaksanaan ibadah.
Allah ﷻ juga berfirman:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu).” (QS. Yunus:5)
Merujuk Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini menjelaskan bahwa peredaran matahari dan bulan merupakan bagian dari ketetapan Allah ﷻ agar manusia dapat menghitung waktu, tahun, serta mengatur berbagai urusan kehidupan.
Baca juga : Awal Mula Penetapan Tahun Hijriyah
Kalender Hijriah Menjadi Pedoman Pelaksanaan Berbagai Ibadah
Salah satu fungsi utama Kalender Hijriah adalah sebagai pedoman dalam menentukan waktu ibadah.
Misalnya, kewajiban puasa Ramadhan hanya dimulai ketika telah memasuki bulan Ramadhan berdasarkan Kalender Hijriah. Rasulullah ﷺ mengajarkan agar awal dan akhir Ramadhan ditentukan dengan melihat hilal.
Nabi ﷺ bersabda:
“Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihat hilal. Jika hilal tertutup awan bagi kalian, maka sempurnakan hitungan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.” (HR. Al-Bukhari no. 1909 dan Muslim no. 1081)
Hadis ini menjadi salah satu dasar utama dalam penentuan awal bulan Hijriah yang masih digunakan hingga saat ini, baik melalui rukyat maupun hisab yang disepakati.
Bukan hanya Ramadan, Kalender Hijriah juga menjadi acuan dalam berbagai ibadah lainnya, seperti:
- Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah.
- Hari Raya Iduladha pada 10 Dzulhijjah.
- Puasa Asyura pada 10 Muharram.
- Puasa Ayyamul Bidh setiap tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriah.
- Penentuan waktu pembayaran zakat fitrah menjelang Idulfitri.
Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh ibadah yang berkaitan dengan waktu dalam Islam berpatokan pada Kalender Hijriah.
Menjaga Kalender Hijriah Berarti Menjaga Kesadaran Ibadah
Di era modern, kalender Masehi memang lebih banyak digunakan untuk urusan pendidikan, pekerjaan, maupun administrasi. Namun, bukan berarti Kalender Hijriah kehilangan perannya.
Justru, memahami Kalender Hijriah membantu seorang Muslim lebih siap menjalankan ibadah tepat waktu dan tidak melewatkan berbagai momen penuh keutamaan yang Allah ﷻ berikan sepanjang tahun.
Mulai dari Ramadhan, Iduladha, Muharram, hingga bulan-bulan haram, semuanya mengajarkan bahwa setiap waktu memiliki peluang untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah ﷻ
Baca juga: Kenapa Muharram Disebut ‘Bulan Allah’? Ini Makna Dibaliknya
Kalender Hijriah bukan hanya tentang menghitung pergantian bulan, tetapi juga mengingatkan bahwa perjalanan hidup seorang Muslim selalu diiringi kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak amal dan meneladani semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.
[Yuk jadi bagian kebaikan bersama Masjid Nusantara!]
Memahami Kalender Hijriah mengajarkan kita bahwa setiap waktu adalah kesempatan untuk beribadah dan menebar manfaat. Salah satu amal yang pahalanya terus mengalir adalah berkontribusi menghadirkan masjid yang layak bagi saudara-saudara Muslim di pelosok negeri.
Melalui Program Masjid Pelosok dari Masjid Nusantara, Anda dapat ikut menghadirkan tempat ibadah yang lebih aman, nyaman dan menjadi pusat kegiatan umat di berbagai wilayah pelosok Indonesia. Program ini berfokus pada pembangunan dan renovasi masjid di daerah yang minim fasilitas ibadah dan sulit dijangkau.
[Klik disini untuk ikut donasi Bangun Masjid Pelosok sekarang!]
Sumber foto: Julius Carmine, Unsplash.






