Di perkotaan, kemewahan beribadah seringkali didapati seperti masjid yang ber-AC, sajadah tebal yang empuk dan tempat wudhu yang memadai.
Berbeda dengan masjid yang ada di pelosok Indonesia. Di sudut-sudut terjauh negeri ini, ada saudara Muslim kita yang harus menempuh perjalanan jauh dan ekstrim hanya untuk sampai ke sebuah bangunan kayu yang hampir roboh.
Di balik segala keterbatasannya, masjid-masjid di pelosok justru menyimpan esensi ibadah yang jauh lebih hidup daripada megahnya rumah ibadah di kota besar.
Bangunan Paling “Hidup” di Pelosok
Di pelosok negeri ini, banyak sebuah masjid yang hanya berdinding anyaman bambu atau pondasi kayu yang mulai lapuk, tetapi tetap menjadi rumah kedua bagi warga pedalaman disana. Bangunan sederhana tersebut menjadi yang paling hidup karena menjadi satu-satunya ruang tempat masyarakat berkumpul agar kehidupan terasa bisa dihadapi bersama.
Ketika matahari tenggelam, masjid di pelosok bertransformasi menjadi ruang kelas yang ramai akan suara anak-anak mengeja huruf hijaiyah. Disinilah juga para petani dan masyarakat berkumpul selepas beraktivitas. Meluangkan waktu untuk hadir untuk bermusyawarah, membagi hasil panen, hingga menyelesaikan persoalan-persoalan sosial di pedalaman.
Bagi mereka, masjid adalah tempat belajar, tempat perlindungan yang sekaligus menjadi tempat merawat iman bersama-sama. Keterbatasan fasilitas tidak membuat fungsi masjid berkurang. Justru karena kurangnya bangunan lain yang memadai di pedalaman, menjadikan masjid memikul beban moral yang besar untuk menjaga kebersamaan warga. Membiarkan masjid di pelosok rusak, sama saja dengan mematikan denyut nadi kehidupan di pedalaman sana.
Perjuangan Diam-Diam Warga yang Menjaganya
Kita sering terpukau pada bangunan masjid megah di tengah-tengah perkotaan. Melupakan bahwa ada masjid di pelosok yang perlahan bertahan dengan kemampuan seadanya.
Mungkin saja kita pernah mengira bahwa saudara di pelosok hanya pasrah saja dengan kondisi masjid mereka yang memprihatinkan. Kenyataanya, ada perjuangan luar biasa dari mereka yang dilakukan diam-diam tanpa pernah mengeluh kepada dunia.
Ada seorang marbot lansia yang setiap shubuh berjalan membelah gelap dan dingin untuk melantunkan sholawat dan mengumandangkan adzan, tanpa upah sepeser pun. Ada juga para warga yang saling gotong royong rela berjalan kaki menggendong jerigen air yang jaraknya bisa berkilo-kilo meter agar bak wudhu masjid tidak kering dan habis untuk dipakai jamaah.
Berbeda dengan kita, mereka tidak punya biaya operasional bulanan seperti masjid-masjid di kota. Ketika atap mereka bocor dan beberapa lantai kayu rusak, mereka menambalnya dengan peralatan seadanya. Mereka menjaga rumah Allah ﷻ tersebut dengan segenap keterbatasan fisik dan ekonomi yang mereka miliki.
Cinta mereka yang tulus tumbuh disana, menjaga adzan tetap berkumandang, menjaga anak-anak tetap mengaji dan menjaga kampung tetap punya tempat berkumpul bersama.
Berdiri Sedikit Demi Sedikit
Masjid di pelosok seringkali berdiri sedikit demi sedikit sebagai sebuah proses panjang yang penuh perjuangan.
Pembangunannya dimulai dari patungan warga yang tidak seberapa. Pada bulan pertama, bisa saja hanya mampu untuk membeli beberapa kayu pondasi. Di tengah proses pembangunannya pun, bisa saja terhenti karena keterbatasan uang di tengah kebutuhan hidup mereka. Inilah perjuangan sebuah masjid di pelosok, mereka sulit membeli bahan bangunan, sulit menempuh akses medan jalan dan lain sebagainya.
Setiap tiang kayu yang berdiri menjadi simbol dari doa yang dipanjatkan bertahun-tahun. Proses gotong royongnya pun melibatkan semua unsur warga di dalamnya, baik laki-laki dan perempuan, orang dewasa, anak-anak hingga para lansia. Mereka saling bahu-membahu membangun masjid, saling menguatkan di tengah keterbatasan untuk sebuah tempat ibadah yang ingin bisa mereka miliki.
Saudara-saudara di pelosok membangun tempat sujud mereka dengan nafas yang terengah-engah dan keringat yang bercucuran. Mereka sangat mendambakan sebuah tempat ibadah sholat yang layak dan aman, yang melindungi mereka dari hujan dan panas.
Ulurkan Tangan, Bagi Masjid di Pelosok
Sekarang waktunya kita menjembatani jarak yang ada. Ketidaktahuan kita di kota adalah dinding pembatas yang harus diruntuhkan dengan kepedulian.
Saudara-saudara Muslim kita di pelosok telah mengerahkan seluruh tenaga, waktu dan koin-koin mereka, tetapi kemampuan mereka tetap ada batasnya. Mereka tetap membutuhkan uluran tangan kita untuk menyelesaikan fondasi-fondasi tempat ibadah yang kurang layak di pelosok sana.
Melalui program ‘Masjid Pelosok’ dari Masjid Nusantara Sobat Masjid bisa menjadi bagian dari jawaban atas doa-doa mereka yang berada di pelosok. Sedekah yang Sobat Masjid sisihkan hari ini akan menjadi sebuah semen, batu bata, mukena, al-qur’an, karpet masjid bahkan aliran air bersih bagi mereka wudhu dengan nyaman tanpa bersusah payah.
Bantuan dari Sobat Masjid akan menghadirkan senyuman kebahagiaan bagi warga pelosok saat mereka sujud dan beribadah di rumah ibadah yang layak.
Yuk alirkan pahala jariyah tanpa putus dengan ikut berdonasi, klik ini [Program Masjid Pelosok – Masjid Nusantara] dan bangun rumahmu di surga karena telah membantu membangun dan memakmurkan rumah Allah ﷻ di pelosok-pelosok Indonesia.






