Feb 27, 2026

Mengelola Emosi di Usia Muda: Pelajaran dari Kasus UIN Riau

Setiap orang pasti pernah diuji oleh berbagai masalah. Baik dalam keluarga, hubungan pertemanan, hubungan cinta, diuji oleh penolakan bahkan diuji oleh sebuah kehilangan. 

Mengelola emosi bukan pekara mudah, terutama di usia muda yang penuh gejolak perasaan.

Kejadian yang terjadi di lingkungan pendidikan Kampus UIN Riau, menjadi pengingat bahwa emosi negatif bisa membawa sebuah petaka.

Bermula dari dugaan motif sakit hati, seorang mahasiswa nekat menyerang mahasiswi yang sedang bersiap untuk mengikuti sidang skripsi.

Dengan demikian, Insiden tersebut menyebabkan korban mengalami luka cukup serius bahkan bisa mengancam keselamatan nyawanya.

Ujian Hati di Usia Muda: Kasus UIN Riau

Usia muda dalam fase transisi peralihan ke masa dewasa memang banyak dipenuhi oleh perubahan emosional dan berkaitan dengan meningkatnya tekanan-tekanan.

Seperti pembentukan identitas, mencari jati diri, berusaha mencapai stabilitas hidup salah satunya dengan menuntut ilmu di dunia perkuliahan.

Pada dunia perkuliahan, kebanyakan anak-anak muda cenderung memiliki emosi yang masih labil dan ego yang besar. Sayangnya, tidak banyak juga mahasiswa yang sadar akan pentingnya mengelola emosi secara sehat.

Lalu, mengapa dari sekian banyaknya ajaran teori, masih saja sedikit pelajaran tentang mengelola perasaan?

Mengetahui cara dalam mengelola emosi itu penting.

Persoalan emosi di usia muda perlu dibimbing dan diarahkan karena berpengaruh dalam menentukan arah hidup dan pengambilan keputusan.

Minimal menghasilkan sebuah keputusan yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

Emosi Negatif Berbahaya Bagi Akal dan Iman

Di masa perkuliahan, misalnya para mahasiswa di UIN Riau itu rata-rata itu diisi oleh usia Quarter Life Crisis.

Sehingga rentan mengalami kecemasan, kebingungan, takut gagal, kemarahan dan kesedihan.

Di tahap ini, orang yang tidak bisa mengelola emosi negatif akan rentan merasa tidak dipahami oleh orang-orang disekitarnya. Sehingga lebih sensitif ketika mendapatkan pendapat atau masukan dari orang lain.

Dengan membiarkan emosi negatif mengambil kendali lebih banyak pada perasaan hanya akan berakibat pada kehancuran di masa depan.

Emosi negatif yang tidak diekspresikan secara benar, akan menambah beban mental semakin berat dan berujung pada pengambilan keputusan yang impulsif. 

Islam mengajarkan sabar dan menahan diri.

Bukan untuk membungkam emosi negatif yang datang, tetapi untuk memberikan jeda antara emosi dan tindakan. Sehingga, bisa melindungi diri juga orang lain dari buruknya emosi negatif itu sendiri.

Ketika sebuah penolakan muncul dan datang dari seseorang yang kita sukai, sehingga hati bergejolak, ego terusik dan harga diri terlukai.

Penting bagi setiap orang untuk memberikan jeda antara luka dan reaksi, antara emosi dan keputusan.

Emosi negatif seperti perasaan patah hati merupakan fitrah manusia.

Namun, emosi negatif sangat perlu diarahkan dengan cara yang benar. Sebab antara rasa dan tindakan selalu ada ruang bernama pilihan. Disitulah iman dan juga akal diuji.

Pentingnya Mengelola Emosi dan Amarah

Pendidikan emosional sangat perlu diberikan perhatian yang intens dari berbagai pihak.

Rasanya bangku pendidikan sudah banyak berbagi mengenai cara berpikir logika dan mencapai kompetensi akademik. Namun, lupa memberikan perhatian pada ruang perasaan seperti memahami luka, menerima penolakan, dan mengelola kemarahan.

Semakin runtut jalan logika berpikir seseorang atau semakin tinggi ilmu seseorang, tidak menutup kemungkinan akan tetap menyimpan sebuah bom waktu ledakan emosi negatif yang muncul secara tiba-tiba, akibat kurang terbiasanya mengelola emosi tersebut.

Ketika ledakan emosi negatif semakin marak bermunculan, disinilah ruang-ruang aman untuk belajar mengelola luka, menerima sebuah penolakan, belajar menahan diri dan terbuka akan masalah tanpa takut dihakimi akan sangat diperlukan.

Karena beberapa petaka terkadang bukan muncul karena kurangnya pengetahuan akan ilmu, tetapi bisa jadi dari hati dan perasaan yang jarang diajari berdamai dengan rasa sakit.

Mari Jadi Generasi Matang Secara Emosional

Tuhan menganugerahkan manusia dengan sebuah akal dan hati. Untuk bisa mengenali setiap kebaikan yang datang maupun untuk siap menghadapi sebuah ujian kehidupan, termasuk ujian pada emosi dan perasaan. 

Semakin bertambahnya usia ataupun bertambahnya gelar akademik seseorang, penting untuk tetap memiliki kemampuan dalam mengelola emosi atau perasaan diri sendiri.

Mari menjadi generasi yang matang secara emosional. Artinya, menjadi pribadi yang bisa selalu tenang menahan diri  dan sabar jika dihadapkan dengan situasi emosi negatif.

Kematangan emosional akan semakin terlihat ketika seseorang bisa mengenal lebih dalam mengenai konsep sabar.

Menahan diri dari timbulnya emosi negatif, mempercayai setiap ujian yang datang akan selalu memiliki hikmah, bisa menjadikan pribadi lebih tenang dan tidak larut dalam kesedihan.

Belajarlah menerima sebuah kenyataan tanpa menyalahkan, belajarlah mencintai tanpa adanya pemaksaan. Terakhir, mampu untuk terluka tanpa melukai.

Salah satu cara yang diajarkan dalam Islam untuk menenangkan jiwa adalah dengan berbagi.

Sedekah bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi tentang membersihkan diri sendiri. Ia meluruhkan kesombongan, meredam amarah, dan melembutkan hati yang keras oleh luka.

Saat kita memberi, kita sedang belajar melepaskan.

Melepaskan ego, melepaskan rasa ingin memiliki, dan melepaskan beban yang selama ini mengganggu ketenangan batin. Hati yang terbiasa memberi akan lebih mudah bersabar, lebih lapang menerima takdir, dan lebih tenang menghadapi penolakan.

Melalui program Sedekah Subuh Sobat Masjid bisa jadikan sedekah sebagai bagian dari proses memperbaiki diri.

Bukan hanya untuk menguatkan sesama, tetapi juga untuk menata jiwa menjadi pribadi yang lebih baik.

Categories: Artikel