Oct 5, 2026

Kedamaian Palsu: Palestina Masih Butuh Keadilan

Ada perbedaan mendasar antara keadaan yang tenang dan keadaan yang adil. Senjata yang berhenti menggonggong atau bom yang tak lagi meledak tidak otomatis menandakan sebuah tragedi telah usai. 

Terlebih jika di balik kesunyian itu, hak-hak dasar rakyat Palestina masih dirampas dan masa depan mereka tetap digantung tanpa kepastian.

Palestina tidak sekadar membutuhkan dunia yang hening dari hiruk-pikuk perang. Palestina membutuhkan dunia yang tidak lupa pada hakiki keadilan.

Ketika Sunyi Dianggap Selesai

Selama ini, kita kerap menjebak diri dalam definisi damai yang dangkal: asal tidak ada ledakan, berarti sudah aman. Memang, berhentinya kekerasan adalah nafas lega yang sangat dinantikan. Setiap jiwa berhak hidup tanpa dibayangi ketakutan.

Namun, mari kita bertafakur lebih dalam. Apakah berhentinya serangan berarti anak-anak di sana sudah bisa kembali bersekolah dengan tenang? Bagaimana dengan keluarga yang kehilangan rumah, sudahkah mendapatkan kembali tanah tempat mereka berpijak? Mari pikirkan apakah mereka sudah benar-benar bebas dan bermartabat?

Jika hak-hak itu belum kembali, maka yang berhenti barulah suaranya, bukan ketidakadilannya. Allah ﷻ menegaskan pentingnya menegakkan keadilan secara utuh, bukan setengah-setengah:

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri,  ..” 

(QS. An-Nisa: 135)

Luka yang Tak Selesai Hanya dengan Semen dan Tenda

Saat krisis melanda, bantuan fisik adalah penyambung nyawa. Makanan, air bersih, obat-obatan, hingga pemulihan masjid yang roboh sangatlah krusial. Namun, jangan sampai kita memandang penderitaan Palestina sebatas bencana alam yang selesai hanya dengan membagi-bagikan sembako atau menggalang dana rekonstruksi.

Bantuan logistik bertugas membalut luka hari ini, tetapi keadilanlah yang memastikan luka yang sama tidak terus-menerus disayat esok hari. Jangan sampai megahnya gedung yang dibangun kembali justru menutupi fakta bahwa manusia di dalamnya masih hidup dalam “penjara tanpa jeruji”.

Rasulullah ﷺ mengingatkan kita untuk menghentikan akar dari sebuah kezaliman, bukan sekadar meratapi dampaknya:

“Tolonglah saudaramu ketika dia berbuat zalim atau dizalimi.” Lantas seorang laki-laki bertanya, “Wahai Rasulullah, aku akan menolongnya jika ia dizalimi. Namun, bagaimana pendapat Anda jika ia adalah pelaku kezaliman, bagaimanakah caraku menolongnya?” Beliau menjawab, “Hendaklah engkau menghalanginya atau mencegahnya dari kezaliman itu. Demikianlah cara menolongnya.” 

(HR. Bukhari no 6952)  

Menolak Lupa di Tengah Riuhnya Algoritma

Ada pola yang sering berulang, yakni ketika lini masa sosial media kita dipenuhi visual reruntuhan dan tangisan, empati kita membuncah. Kita marah, berdoa dan berdonasi. Namun, ketika algoritma berganti dan isu hangat lain datang, kepedulian kita perlahan pudar.

Kita harus sadar bahwa penderitaan manusia tidak bekerja seperti algoritma media sosial. Luka fisik dan trauma batin tidak otomatis sembuh hanya karena kita berhenti mengusap layar ponsel.

Persaudaraan dalam Islam tidak berumur pendek sependek perhatian media. Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan sesama orang beriman, beliau bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam perilaku saling mencintai, kasih sayang dan tolong-menolong di antara mereka seperti satu tubuh. Jika ada satu bagian tubuh mengalami sakit, maka sekujur tubuh ikut merasakannya dengan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”  

(HR. Ṣaḥīḥ Muslim – 2586).

Jika satu bagian tubuh saudara kita masih terluka, bagaimana mungkin kita merasa keadaan baik-baik saja hanya karena berita di televisi ataupun di media sosial sudah berganti topik?

Kepedulian yang Bertumbuh Menjadi Aksi Nyata

Mungkin kita tidak berada di garis depan. Kita tidak memegang kendali atas meja diplomasi dunia. Namun, ketidakmampuan mengubah semuanya bukan alasan untuk tidak melakukan apa-apa.

Kepedulian sejati tidak berhenti pada rasa kasihan, melainkan mewujud dalam langkah konsisten:

  • Menjaga Narasi Kebenaran: Tetap menyuarakan hak kemerdekaan Palestina dan tidak mudah terkecoh oleh retorika “damai palsu”.
  • Langitkan Doa yang Tak Putus: Memohon keteguhan dan perlindungan bagi mereka di setiap sujud kita.
  • Menyalurkan Bantuan Konkret: Memastikan nafas kehidupan dan syiar Islam di sana tetap menyala.

Mari Terus Bergerak Bersama

Perdamaian tanpa keadilan hanyalah penundaan konflik. Selama saudara-saudara kita di Palestina belum mendapatkan kebebasan hakikinya, ikhtiar dan kepedulian kita tidak boleh surut.

Mari berdiri bersama saudara-saudara kita di Palestina dengan menyalurkan donasi dan sedekah terbaikmu melalui Program 4 in 1 untuk Palestina bersama Masjid Nusantara. 

Bantuanmu akan menghadirkan air bersih, makanan, tempat beralas yang layak, hingga pemulihan sarana ibadah bagi mereka yang membutuhkan. Karena sekecil apa pun kepedulian yang kita berikan, ia akan menjadi jejak kebaikan yang abadi. 

[Klik di sini dan hadirkan manfaat utuh melalui Program Sedekah 4 in 1 untuk Palestina!]

Mari bersama Masjid Nusantara mengambil bagian membantu saudara di Palestina. Banyak orang Indonesia juga masih bergerak dan Dunia pun masih bersuara.

Sumber foto: Houssem bouaza – Unsplash.

Categories: Artikel