Sejumlah figur publik kelas internasional memilih untuk mempertaruhkan nama besar, karier, hingga pendapatan mereka demi berdiri di pihak yang benar.
Betapa mahalnya harga sebuah kebenaran ketika nurani, prinsip kemanusiaan dan keadilan harus dibayar dengan ancaman matinya karier di panggung dunia.
Aktris Hollywood Melissa Barrera harus rela dilepas dari waralaba film blockbuster Scream VII akibat seruan pembebasan dan gencatan senjata yang diunggahnya di media sosial. Langkah senada dialami aktris pemenang Oscar Susan Sarandon yang dikeluarkan oleh agensi ternama United Talent Agency (UTA). Di lapangan hijau, pesepak bola Anwar El Ghazi mengalami pemutusan kontrak secara sepihak, oleh klub Bundesliga Mainz 05 setelah dengan tegas menyuarakan dukungan kemanusiaan bagi Gaza.
Dalam kacamata Islam, keteguhan sikap para figur publik ini memantulkan kembali salah satu nilai moral tertinggi yang kerap kita lupakan: sifat syaja’ah (keberanian membela kebenaran).
Syaja’ah: Ketika Nurani Mengalahkan Kepentingan Materi

Secara bahasa, syaja’ah berarti keberanian yang berlandaskan kebenaran dan diiringi oleh pertimbangan akal serta iman. Sifat ini bukanlah keberanian konyol tanpa perhitungan, melainkan keteguhan jiwa saat menghadapi risiko demi menegakkan prinsip keadilan (‘adl).
Allah ﷻ secara tegas memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berdiri mengawal keadilan tanpa terpengaruh oleh rasa takut maupun kebencian:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (menjadi) saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Para figur publik yang rela kehilangan kontrak juta dolar memperlihatkan pesan moral yang jernih: integritas tidak bisa ditawar dengan nominal uang. Jika mereka yang belum tentu seiman sanggup mengorbankan panggung dunianya demi nurani kemanusiaan, bagaimana dengan kita yang menyandang identitas mu’min?
Jangan Takut Kehilangan Karena Membela Keadilan

Salah satu pemicu seseorang memilih bungkam di hadapan kezaliman adalah rasa takut akan kehilangan mata pencaharian, jabatan atau penerimaan sosial. Padahal, Islam telah meletakkan fondasi akidah yang kokoh mengenai hakikat rezeki.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits shahih:
“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR. Ahmad 5: 363).
Rezeki bukan sekadar angka di rekening bank atau kilau mahkota popularitas. Ketenangan batin, keberkahan hidup dan posisi terhormat di hadapan Sang Pencipta adalah bentuk rezeki yang jauh lebih berharga.
Ketika pintu pekerjaan tertutup karena kita membela jiwa-jiwa yang terzalimi, Allah ﷻ berjanji membukakan pintu keberkahan dari arah yang tidak disangka-sangka.
“Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. At-Talaq: 3).
Menjelmakan Keteguhan Menjadi Aksi Nyata

Kita tidak boleh menjadi silent bystanders penonton yang membisu saat penindasan berlangsung di depan mata.
Rasulullah ﷺ mengingatkan tanggung jawab ini dalam hadits:
“Siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah iman yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49)
Mari kembali memberi aksi dan lebih berani mengambil peran nyata! Dengan cara:
Terus Bersuara (Lisan):
Gunakan platform media sosial dan ruang diskusi kita untuk menjaga agar isu kemerdekaan Palestina tetap hidup dan terinformasikan secara adil.
Menguatkan Kemanusiaan (Tangan):
Salurkan kepedulian melalui bantuan konkret baik berupa rekonstruksi tempat ibadah, penyediaan air bersih, maupun program bantuan darurat bagi warga Palestina.
Mendoakan Tanpa Putus (Hati):
Basahi sajadah-sajadah masjid kita dengan doa-doa, memohon pertolongan dan perlindungan bagi mereka yang berada di garis depan perjuangan.
Merawat Simbol dan Narasi dalam Keseharian:
Sekecil apa pun atribut Palestina yang kita kenakan mulai dari gantungan kunci, stiker di laptop, hingga keffiyeh jika dipakai setiap hari, ia akan menjadi pengingat visual yang menjaga isu ini tetap membara di ingatan publik.
Kreativitas Konten Edukatif:
Buat dan sebarkan konten kreatif yang mendokumentasikan beragam cara unik masyarakat dunia dalam menyuarakan kemerdekaan Palestina, agar menginspirasi lebih banyak orang untuk ikut bergerak.
Menyuarakan kebenaran mungkin terasa mahal di mata dunia. Namun, di hadapan Allah ﷻ, setiap pengorbanan kecil demi keadilan akan menjadi saksi yang memberatkan timbangan kebaikan kita di akhirat kelak.
Selamatkan Diri Kita Melalui Bantuan Kemanusiaan
Pertolongan dan bantuan yang kita kirimkan hari ini sejatinya bukan sekadar untuk menyelamatkan warga Gaza, melainkan untuk menyelamatkan diri kita sendiri di hadapan Allah ﷻ.
Di akhirat kelak, saat setiap nikmat harta, usia dan lisan diminta pertanggungjawaban, apa yang akan kita jawab ketika Allah ﷻ bertanya: “Di mana posisi serta peranmu saat saudara-saudaramu dibantai dan dizalimi?”
Jangan sampai kita hadir di Yaumul Hasrah sebagai hamba yang hampa tanpa pembelaan.
Mari ambil bagian sekarang juga. Kirimkan bantuan terbaik mu untuk rekonstruksi masjid, penyediaan air bersih dan pasokan darurat bagi saudara-saudara kita di Palestina melalui program “Sedekah 4 in 1: Satu Donasi, Empat Manfaat Kebaikan untuk Palestina.”
[Klik di sini dan hadirkan manfaat utuh melalui Program Sedekah 4 in 1 untuk Palestina!]
Mari bersama Masjid Nusantara mengambil bagian membantu saudara di Palestina.
Banyak orang Indonesia yang masih bergerak dan Dunia pun masih nyaring bersuara.
Sumber foto:
- Luke white – Unsplash
- Jeremiah amay – Unsplash
- Dua hazia – Unsplash
- Abdul aziz-munj – Unsplash






