Jul 29, 2026

Kapan Waktu Terbaik untuk Shalat Dhuha? Ini Penjelasannya

Shalat Dhuha merupakan salah satu ibadah sunnah yang sangat dianjurkan (sunnah muakkadah). Selain sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat persendian yang Allah ﷻ berikan setiap pagi, shalat Dhuha juga dikenal sebagai pembuka pintu rezeki dan penenang jiwa sebelum kita memulai aktivitas harian.

Namun, seringkali timbul pertanyaan di antara umat Islam: “Sebenarnya, kapan waktu mulai dan berakhirnya shalat Dhuha? Lalu, dari rentang waktu yang ada, jam berapa yang paling utama untuk melaksanakannya?

Ini dia penjelasannya.

Pembagian Rentang Waktu Shalat Dhuha

Secara umum, rentang waktu shalat Dhuha membentang sejak matahari terbit seukuran tombak (sekitar 15–20 menit setelah syuruq) hingga menjelang waktu shalat Dzuhur (sekitar 10–15 menit sebelum adzan Dzuhur).

Untuk memudahkan, kita bisa membagi waktu shalat Dhuha menjadi tiga fase:

1. Waktu Awal Dhuha (Awal Pagi)

  • Pukul: Kurang lebih 06.30 – 07.30 WIB (sesuai wilayah masing-masing).
  • Kondisi: Matahari baru saja terbit setinggi satu tombak di ufuk timur.
  • Keutamaan: Melaksanakan Dhuha di awal waktu sangat cocok bagi Sobat Masjid yang hendak berangkat bekerja, kuliah atau memulai aktivitas harian agar pagi hari diawali dengan mengingat Allah ﷻ.

2. Waktu Pertengahan Dhuha (Menjelang Siang)

  • Pukul: Kurang lebih 07.30 – 08.30 WIB.
  • Kondisi: Sinar matahari mulai terasa hangat dan menyinari bumi dengan jelas.
  • Keutamaan: Waktu ini merupakan waktu yang cukup fleksibel dan sering dipilih oleh para pekerja atau ibu rumah tangga di sela-sela rutinitas pagi.

3. Waktu Puncak / Akhir Dhuha (Waktu Paling Utama)

  • Pukul: Kurang lebih 09.00 – 11.00 WIB (sebelum masuk waktu larangan menjelang Dzuhur).
  • Kondisi: Udara dan sinar matahari mulai terasa terik, serta anak unta mulai merasakan panas pada pasir tempatnya berpijak.

Mana Jam yang Paling Utama?

Jika ditanya kapan jam yang paling utama (afdhal) untuk menunaikan shalat Dhuha, jawabannya adalah di akhir waktu atau saat matahari mulai terik (sekitar pukul 09.00 hingga 10.30 WIB).

Waktu utama ini dikenal juga dengan sebutan Shalat Awwabin (shalatnya orang-orang yang kembali taat kepada Allah ﷻ).

Hal ini bersandar pada hadis Rasulullah ﷺ:

“(Waktu terbaik) Shalat Awwabin (Dhuha) yaitu ketika anak unta merasakan terik matahari.” (HR. Muslim no. 748).

Mengapa waktu ini menjadi yang paling utama? Para ulama menjelaskan bahwa pada jam-jam tersebut, kebanyakan manusia sedang sibuk dengan urusan duniawi, pekerjaan atau perniagaan. Seseorang yang mau meluangkan waktu sejenak di tengah kesibukannya untuk berwudhu dan bersujud kepada Allah ﷻ memiliki nilai keutamaan dan keikhlasan yang sangat tinggi.

Tata Cara Ringkas dan Jumlah Rakaat

  • Jumlah Rakaat: Minimal dikerjakan 2 rakaat dan maksimal tidak dibatasi (sebagian ulama menyebutkan 8 atau 12 rakaat), dikerjakan tiap 2 rakaat satu salam.
  • Niat Shalat Dhuha:
    Ushallii sunnatadh-dhuhaa rak’ataini lillaahi ta’aalaa.
    (Aku niat shalat sunnah Dhuha dua rakaat karena Allah Ta’ala).
  • Bacaan Surat: Disunnahkan membaca surat Asy-Syams dan Ad-Dhuha atau surat Al-Kafirun dan Al-Ikhlas pada rakaat pertama dan kedua.

Mari Hadirkan Lebih Banyak Tempat untuk Beribadah

Kemudahan kita menunaikan shalat hari ini tidak lepas dari keberadaan masjid yang layak dan nyaman. Namun, masih banyak saudara kita di pelosok Indonesia yang harus beribadah di masjid yang rusak, sempit atau bahkan nyaris roboh.

Melalui Masjid Nusantara, kita dapat ikut menghadirkan masjid yang lebih layak bagi mereka. Karena setiap masjid yang dibangun bukan hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga menjadi pusat belajar, berkumpul dan menguatkan kehidupan masyarakat.

[Klik disini untuk ikut berdonasi Bangun Masjid Pelosok sekarang!]

Semoga setiap langkah kecil yang kita lakukan untuk memakmurkan masjid menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya hingga akhir hayat.

Referensi:

Sumber foto: Mosquegrapher – Unsplash.

Categories: Artikel