Mar 20, 2026

Mengejar Makna Fitrah Selepas Ramadhan

Ramadhan telah berlalu, meninggalkan jejak doa-doa, taubat, dan sujud panjang yang penuh harap kepada Allah SWT.

Selepas Ramadhan, umat muslim akan merayakan hari raya Idul Fitri dengan nuansa penuh kegembiraan dari setiap orang di hari tersebut.

Hari raya Idul Fitri sering dianggap sebagai garis akhir perjuangan ruhani setiap muslim di bulan Ramadhan. 

Padahal, momentum Idul Fitri merupakan garis awal para umat muslim untuk mendapatkan hati yang “Fitrah” dan tetap menjaga semangat keimanan selama sebulan penuh di Ramadhan.

Pertanyaannya, apakah kita hanya merayakan kemenangan saja? dan apakah semangat kemurnian iman akan berlalu bersama waktu?

Makna Idul Fitri

Sebagai salah satu dari hari perayaan besar umat Islam. Mari, kita bahas makna Idul Fitri secara lebih dalam.

Idul Fitri berasal dari kata “Id” yang berarti kembali atau mengarah pada kata “al-mausim’ yang berarti musim.

Maksudnya, hari raya ini akan terus berulang dan dimeriahkan setiap tahun.  

Kemudian, kata “Fitri” memiliki dua arti, yakni suci dan berbuka. 

Suci berarti bersih dari kesalahan atau dosa-dosa. Karena itu, Idul Fitri dimaknai sebagai momen kembali kepada fitrah yakni keadaan hati yang bersih dan penuh ketaatan kepada Allah SWT. 

Sedangkan arti  berbuka dalam kata fitri itu merujuk pada hadis berikut:

Diriwayatkan dari ‘Aisyah bahwa ia mengatakan: Rasulullah saw bersabda: Idul Fitri adalah hari ketika orang berbuka puasa dan Idul Adha adalah hari ketika orang menyembelih kurban . ” [HR. at-Tirmidzi, no 802].

Oleh karena itu, Idul Fitri dikenal sebagai hari kemenangan yang dirayakan dengan makan dan berbuka, sekaligus menjadi hari yang dilarang untuk berpuasa.

Amal Berkelanjutan Lebih Dicintai Allah

Setelah momentum Idul Fitri selesai, umat Muslim akan diuji mengenai keistiqomahan iman dan semangat ibadah setelah Ramadhan berlalu. 

Bagaimana umat Muslim menjaga agar masjid tidak sepi kembali dan agar tahajud tidak hanya mengandalkan alarm untuk berbunyi. 

Dari situ juga bisa terlihat sejauh apa kualitas iman kita, apakah selama ini ibadah kita karena hanya suasana Ramadhan atau memang murni karena cinta kepada Allah SWT?

Rasulullah SAW bersabda: 

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Beberapa orang hanya semangat dalam ketaatan pada permulaan bulan Ramadhan, kemudian melemah di pertengahan dan bahkan bisa menghilang ketika bulan Ramadhan berakhir.

Mari mengejar makna Fitrah yang terbebas dari segala keburukan, kesalahan dan dosa secara berkelanjutan. Dengan mendisiplinkan diri untuk mempertahankan satu amalan ibadah atau kebaikan yang terus menerus walaupun sedikit.

Sekecil apa pun amal ibadah atau kebaikan, lakukanlah setiap ada kesempatan.

Menjaga Kefitrahan 

Makna Fitrah bukan hanya persoalan hubungan vertikal seorang hamba kepada Allah SWT, tetapi juga termasuk kedalam hubungan horizontal kepada sesama di sekeliling kita.

Hati yang didalamnya terkandung nilai fitrah atau suci dan murni akan lebih mudah peduli juga berempati terhadap sesama.

Salah satu cara menjaga hati tetap bersih dan lembut adalah dengan berbagi.

Idul Fitri menjadi waktu berbahagia dan penuh berkah bagi umat Muslim untuk membagikan harta kekayaan seseorang kepada mereka yang tidak mampu.

Mari Sobat Masjid lanjutkan kebaikan, kuatkan iman, dan tebarkan manfaat bagi sesama, melalui sedekah di  program Masjid Pelosok. 

Karena ditempat lain, masih ada saudara kita yang mendambakan sebuah Masjid layak untuk digunakan sebagai tempat ibadah sunnah Idul Fitri dan bersilaturahmi dengan sesama.

Karena sejatinya, kemenangan bukan hanya dirayakan tetapi dijaga dan diwujudkan dalam amal nyata.

Sumber foto: Mohammed, Pexels.

Referensi: 

  1. Kumparan.com – Apa Makna Idul Fitri bagi Umat Muslim
  2. Muhammadiyah.or.id – Benarkah Makna Idul Fitri adalah Kembali
  3. Perwirasatu.co.id – Buah Penundaan Amal
Categories: Artikel