Dalam Gelap, Warga Watanglolong Beribadah di Masjidnya yang Rusak

Rp4.254.000

terkumpul dari target Rp30.000.000
14.18% terkumpul 38 hari lagi
Minimum amount is Rp Maximum amount is Rp

Detail

Sejak zaman Rasulullah ﷺ, keberadaan masjid ibarat oase umat Islam. Meski masih berupa bangunan sederhana dari tanah dan hanya diterangi lampu minyak, para sahabat bersemangat mendatangi tempat di mana mereka bisa bertemu sang Kekasih Allah.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” [HR. Abi Dawud dan Turmudzi]

Hari ini, lebih dari seribu tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat, pemandangan serupa ditemukan di Kampung Watanglolong, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Serupa dalam hal apa?

Dalam semangat beribadah, bersegera menuju bangunan sederhana bernama Masjid Ar Rahman, di tengah kegelapan malam. Ya, di Watanglolong belum ada listrik.

 

Namun, seluruh penduduk muslim yang berjumlah 37 KK menjadikan masjid berukuran 12 x 10 m2 itu sebagai pusat kegiatan keagamaan mereka. Shalat fardu, shalat Jumat, shalat Ied, majelis taklim, TPA anak-anak, hingga peringatan hari besar Islam.

Sayangnya, masjid yang dibangun pada 1980 itu kini rusak. Patungan warga tidak kunjung terkumpul, karena pendapatan mereka pun tak tentu, mengandalkan petani dan nelayan musiman.

“Terakhir direnovasi enam tahun lalu, itupun hanya memperbaiki atap bocor, dengan uang pribadi,” aku Bapak Arsyad, tokoh kampung Watanglolong.

Beribadah ke masjid lain pun bukan solusi, karena jarak masjid terdekat sekitar 7 KM, dengan akses jalan jelek dan melewati hutan.

“Akses dari kota ke kampung kami sekitar 15 KM, dengan kondisi jalan 5 KM pertama bagus, setelah itu jalanan berbatu dan terjal, sehingga bisa makan waktu hingga 4 jam,” tutur Bapak Arsyad.

 

Kondisi Ar Rahman terasa makin menyayat, terutama di malam dan subuh. Hanya mengandalkan lampu minyak, para warga shalat berjamaah. Kampung ini belum teraliri listrik.

“Sebetulnya bisa menggunakan genset, tapi selain terbentur jarak, tenaga genset biasanya juga habis untuk keperluan rumah tangga. Lalu karena harganya yang mahal, kami pun tidak rutin menggunakan genset,” ungkap Bapak Arsyad.

Maka, keberadaan Ar Rahman sangat penting. Inilah bangunan yang menjadi pemersatu warga, juga menjadi cahaya di tengah kegelapan Kampung Watanglolong.

 

Sobat, kita dapat bantu mewujudkannya. Klik ‘lanjut donasi’, ya…

NamaJumlahTanggal
Hamba Allah Rp3.000May 21, 2020
Hamba Allah Rp20.000May 20, 2020
Hamba Allah Rp500.000May 19, 2020
Hamba Allah Rp3.000May 17, 2020
Hamba Allah Rp200.000May 15, 2020
Hamba Allah Rp5.000April 27, 2020
Hamba Allah Rp20.000April 24, 2020
Hamba Allah Rp22.000April 24, 2020
Hamba Allah Rp500.000April 22, 2020
Hamba Allah Rp150.000April 18, 2020
Dina Rp500.000April 18, 2020
abu rofif Rp1.000.000April 18, 2020
Pujo wardoyo Rp25.000April 18, 2020
Hamba Allah Rp50.000April 17, 2020
Hamba Allah Rp200.000April 13, 2020
Hamba Allah Rp5.000April 12, 2020
Andi Hijratul Aswad Rp1.000.000April 10, 2020
Hamba Allah Rp10.000April 03, 2020
Hamba Allah Rp5.000April 02, 2020
Abu Azfar Rp11.000April 01, 2020
Hamba Allah Rp25.000April 01, 2020