Bantu Perluasan Masjid Lautze 2, Sedekahmu Jadi Jalan Hidayah Para Calon Mualaf

Saat sendirian di tempat yang baru kamu datangi, tempat apa yang kamu tuju pertama kali? Pasti tempat yang sekiranya banyak orang sedaerah asalmu, atau punya beberapa kesamaan denganmu. Ya, kan?

Jika disambungkan dengan Islam, tempat yang jadi tujuan nonmuslim yang tertarik mengenal Islam, juga tempat para mualaf belajar agama baru mereka, adalah mualaf center.

Salah satu mualaf center yang menjadi garda terdepan dakwah Islam adalah Masjid Lautze 2, di Jalan Tamblong, Bandung.

 

Di Masjid Lautze, para calon mualaf atau mualaf ini menuntaskan ragu dan meyakini Islam, setelah berdiskusi dengan orang-orang yang juga mendapat hidayah Islam.

Sudah genap 21 tahun Masjid Lautze 2 menyumbang angka mualaf, terutama di Jawa Barat. Meski arsitekturnya bercorak Tionghoa, namun Masjid Lautze telah menyaksikan syahadat mualaf dari berbagai suku dan etnis—seperti dari Banten, Yogyakarta, Sumatera Selatan, juga Kalimantan Barat.

Saat berkunjung ke sana, Masjid Nusantara bertemu Ripka (25), pendatang dari Sumatera Utara dalam rangka menuntut ilmu. Awalnya Ribka sempat sinis kepada Islam, namun hidayah merangkulnya.

 

Ribka rutin mendatangi Masjid Lautze untuk menuntaskan ragunya. Di Masjid Lautze-lah Ribka akhirnya bersyahadat, juga melanjutkan pelajaran mengenal agama barunya. Di sini pula ia menemukan ‘keluarga’ baru, setelah keluarganya kecewa dengan keputusannya menjadi mualaf.

“Aku memilih memegang erat hidayah. Dalam kesendirian, aku mencari jalan. Sidang skripsiku kian dekat. Aku tak punya biaya untuk membayar sekian juta. Tak kusangka, Masjid Lautze benar-benar hadir memberi solusi. Akhirnya aku bisa sidang dengan kebaikan hati donatur Masjid Lautze. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah…” ungkap Ribka penuh haru.

Mualaf yang terbantu dengan kehadiran Masjid Lautze bukan hanya Ribka seorang. Kalau penasaran, datang saja saat waktu shalat Jumat.

Jamaahnya membludak, baik mualaf maupun yang muslim sejak lahir beribadah dan mengeratkan ukhuwah di sana. Saking membludaknya, jalan di depan masjid pasti ditutup untuk menampung jamaah yang tidak kebagian tempat.

Ya, Masjid Lautze ‘hanyalah’ berupa ruko berukuran 7×6 meter2, hanya cukup menampung sekitar 52 orang saja.

 

Ada empat ruko berjajar di bangunan saat ini. Dua ruko sudah terbeli, satu diwakafkan oleh pemilik untuk Masjid Lautze, sementara satu lagi masih aktif digunakan sebagai kantor notaris.

Pemilik ruko sudah memperbolehkan pihak masjid jika ingin membeli ruko yang menjadi kantor notaris ini dan menawarkan harga Rp 1,2 milyar.

Membuat masjid bertingkat tidak bisa jadi opsi, karena pemerintah memasukkan Masjid Lautze 2 sebagai cagar budaya yang bernilai historis.

Jadi, jalan terbaik memperluas area masjid adalah membeli satu ruko yang tersisa. Sayangnya, DKM Lautze kesulitan mengumpulkan dana sebesar itu.

 

Kas masjid yang ada digunakan juga untuk program di mualaf center, seperti pembinaan tauhid, peningkatan kapasitas muallaf, pemberdayaan muallaf, serta bantuan ekonomi dan penyelesaian masalah mualaf yang bersifat sosial dan kesehatan.

“Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Sobat, yuk patungan lagi. Berapapun nominalnya, sedekahmu menjadi jalan hidayah saudara-saudara kita kembali ke fitrah Islam mereka, insya Allah. Klik ‘bantu sekarang’.

    Tidak ada update baru belum

Hamba Allah

8 Oct 2020

Rp 100.295

Hamba Allah

"Moga bermanfaat bagi muallaf"

8 Oct 2020

Rp 5.193

Hamba Allah

"Moga manfaat utk muallaf"

6 Oct 2020

Rp 6.492