Potret Mualaf Suku Ta’a Wana yang Beribadah di Rumah Gubuk

Kebutuhan akan adanya masjid bagi para mualaf sangatlah penting, sebagai tempat belajar mendalami dan mempraktikkan ajaran Islam. Sayangnya, keberadaan masjid hingga kini masih menjadi mimpi bagi para mualaf Suku Ta’a Wana yang hidup di pelosok Morowali Utara.

Mereka biasa shalat di rumah salah seorang warga. Rumah itu sempit, tidak bisa menampung warga mualaf untuk beribadah. (masjidnusantara.org)

Berada di Desa Salubiro Dusun Lambetana Kec. Bungku Utara Kab. Morowali Utara. Sedikitnya ada 20 kk (sekitar 60 jiwa) Suku Ta’a Wana di kampung ini yang sudah menganut agama islam. Sebagian lain masih menganut animisme. Mayoritas dari Muslim disini adalah Mualaf. Dengan kondisi tersebut, sering kali warga menyebutnya sebagai Kampung Mualaf.

Perjalanan untuk menemui para Mualaf di Lambetana tidaklah mudah. Tim Masjid Nusantara dan para dai harus berjibaku menembus hutan dengan medan yang terjal khas pedalaman. Membutuhkan waktu satu hari penuh bersusah payah mengendarai motor untuk bisa sampai kampung tersebut.

Para mualaf Suku Ta’a Wana tinggal di rumah-rumah lipu (rumah kayu beralaskan rotan) (Masjidnusantara.org)

Sesampainya disana, kami menyaksikan mereka tinggal di rumah-rumah lipu (rumah kayu beralaskan rotan). Mereka benar-benar hidup terisolir, jauh di tengah hutan. Jadi jangan berharap bisa menemukan bangunan permanen di kampung ini.

Para mualaf di Lambetana tertarik untuk mempelajari Islam, murni atas tuntunan hidayah. Sebagai salah satu petunjuk Allah yang diberikan kepada mereka sehingga terbuka menerima Islam. “Di sinilah tantangan dakwah sebenarnya,” kata seorang Dai, Ust Ghani saat melihat kondisi kehidupan mualaf Lambetana.

“Mereka tertarik memeluk Islam setelah mendengar pengalaman dari sejumlah kerabatnya sesama suku yang tinggal di Padangkalang (salah satu kampung Mualaf lainnya di Morowali Utara),” lanjutnya.

Di dalam satu Lipu, terdapat 2 sampai 3 keluarga yang tinggal tanpa sekat (masjidnusantara.org)

Penerimaan warga terhadap agama Allah memang sangat baik. Sayangnya, cahaya Islam di kampung ini masih redup lantaran belum ada satupun masjid di kampung itu. Sementara untuk menjangkau masjid lain jaraknya sangat jauh, membutuhkan 2 hari berjalan kaki.

Untuk beribadah shalat 5 waktu, biasa mereka melaksanakannya di rumah salah seorang tetua suku. Meski sempit, para mualaf taat menuaikan ibadah di rumah tersebut.

“Warga membutuhkan sekali adanya keberadaan masjid, karena banyak dari mereka yang sudah beragama islam, sebelumnya mereka menganut agama kepercayaan (animisme). Ketika mereka masuk islam, mereka berharap adanya masjid sebagai sarana ibadah mereka,” pungkasnya.

Belum ada jaringan listrik masuk ke kampung mualaf ini (masjidnusantara.org)

Masyarakat yang tinggal di perkotaan dapat dengan mudah menemukan masjid atau musholla. Kita tidak perlu berjalan belasan kilometer untuk beribadah di rumah-Nya. Sementara saudara kita yang terasing di Morowali Utara harus berjuang sangat keras untuk bisa merasakan nikmatnya solat berjamaah.

Yuk sobat bantu wujudkan kehadiran masjid yg layak untuk mualaf Suku Ta’a Wana yg terisolir.

    Tidak ada update baru belum

Hamba Allah

27 Sep 2020

Rp 25.419

Hamba Allah

25 Sep 2020

Rp 15.029

Herawati Santoso

25 Sep 2020

Rp 50.104

Tommy Arjanggi

24 Sep 2020

Rp 15.218

Hamba Allah

23 Sep 2020

Rp 25.328

Hamba Allah

22 Sep 2020

Rp 25.303

Hamba Allah

22 Sep 2020

Rp 100.303

Hamba Allah

22 Sep 2020

Rp 15.120

Hamba Allah

18 Sep 2020

Rp 500.309

Dea Raisa

18 Sep 2020

Rp 50.027

Hamba Allah

18 Sep 2020

Rp 50.453

Ramzil Huda

16 Sep 2020

Rp 150.064

Aliya

16 Sep 2020

Rp 25.380

Hamba Allah

15 Sep 2020

Rp 20.020

Hamba Allah

11 Sep 2020

Rp 200.225

Arifkun

"Baarakallah"

11 Sep 2020

Rp 50.225