Dalam Gelap, Warga Watanglolong NTT Beribadah di Masjidnya yang Rusak

Sejak zaman Rasulullah ﷺ, keberadaan masjid ibarat oase umat Islam. Meski masih berupa bangunan sederhana dari tanah dan hanya diterangi lampu minyak, para sahabat bersemangat mendatangi tempat di mana mereka bisa bertemu sang Kekasih Allah.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.”

Hari ini, lebih dari seribu tahun setelah Rasulullah ﷺ wafat, pemandangan serupa ditemukan di Kampung Watanglolong, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Serupa dalam hal apa?

Dalam semangat beribadah, bersegera menuju bangunan sederhana bernama Masjid Ar Rahman, di tengah kegelapan malam. Ya, di Watanglolong belum ada listrik.

 

Namun, seluruh penduduk muslim yang berjumlah 37 KK menjadikan masjid berukuran 12 x 10 m2 itu sebagai pusat kegiatan keagamaan mereka. Shalat fardu, shalat Jumat, shalat Ied, majelis taklim, TPA anak-anak, hingga peringatan hari besar Islam.

Sayangnya, masjid yang dibangun pada 1980 itu kini rusak. Patungan warga tidak kunjung terkumpul, karena pendapatan mereka pun tak tentu, mengandalkan petani dan nelayan musiman.

“Terakhir direnovasi enam tahun lalu, itupun hanya memperbaiki atap bocor, dengan uang pribadi,” aku Bapak Arsyad, tokoh kampung Watanglolong.

Beribadah ke masjid lain pun bukan solusi, karena jarak masjid terdekat sekitar 7 KM, dengan akses jalan jelek dan melewati hutan.

“Akses dari kota ke kampung kami sekitar 15 KM, dengan kondisi jalan 5 KM pertama bagus, setelah itu jalanan berbatu dan terjal, sehingga bisa makan waktu hingga 4 jam,” tutur Bapak Arsyad.

 

Kondisi Ar Rahman terasa makin menyayat, terutama di malam dan subuh. Hanya mengandalkan lampu minyak, para warga shalat berjamaah. Kampung ini belum teraliri listrik.

“Sebetulnya bisa menggunakan genset, tapi selain terbentur jarak, tenaga genset biasanya juga habis untuk keperluan rumah tangga. Lalu karena harganya yang mahal, kami pun tidak rutin menggunakan genset,” ungkap Bapak Arsyad.

Maka, keberadaan Ar Rahman sangat penting. Inilah bangunan yang menjadi pemersatu warga, juga menjadi cahaya di tengah kegelapan Kampung Watanglolong.

 

Sobat, kita dapat bantu mewujudkannya. Klik ‘lanjut donasi’, ya…

    Tidak ada update baru belum

Vitri

15 Aug 2020

Rp 20.000

Tri Rusmanto

14 Aug 2020

Rp 100.000

Novaria

13 Aug 2020

Rp 1.000

Sylvi

12 Aug 2020

Rp 5.000

Ratih Peni Palupi

12 Aug 2020

Rp 50.000

Ratih Peni Palupi

12 Aug 2020

Rp 0

Yahya Eru Cakra

30 Jun 2020

Rp 200.000

Hamba Allah

19 Jun 2020

Rp 150.000

Fitri Ulvianti

19 Jun 2020

Rp 25.000

Megawati

15 Jun 2020

Rp 10.000

Megawati

12 Jun 2020

Rp 10.000

Sylvi

12 Jun 2020

Rp 5.000

Aprillia

12 Jun 2020

Rp 50.000

Rezkyarum

12 Jun 2020

Rp 100.000

Hamba Allah

12 Jun 2020

Rp 70.000

Nopianto

12 Jun 2020

Rp 50.000

Beny S

12 Jun 2020

Rp 200.000

Rahmah El Ramadhani

10 Jun 2020

Rp 100.000

Sungkono

9 Jun 2020

Rp 50.000

Nur

6 Jun 2020

Rp 30.000

Sofi Nur Jannah

4 Jun 2020

Rp 1.000

Hamba Allah S.W.T.

23 May 2020

Rp 10.000

Rachman Setiawan Amir

23 May 2020

Rp 100.000

Laras

22 May 2020

Rp 3.000

Shafira sekar ayu

20 May 2020

Rp 20.000

Ita

19 May 2020

Rp 500.000

Laras

18 May 2020

Rp 3.000

Neneng wulandani

15 May 2020

Rp 200.000

Laras

28 Apr 2020

Rp 5.000

Michelia C

25 Apr 2020

Rp 20.000

Nunik Retno I

25 Apr 2020

Rp 22.000

Rista lestari

22 Apr 2020

Rp 500.000

Evie

18 Apr 2020

Rp 150.000

Dina

18 Apr 2020

Rp 500.000

Abu rofif

18 Apr 2020

Rp 1.000.000

Pujo wardoyo

18 Apr 2020

Rp 25.000

Tommy

17 Apr 2020

Rp 50.000

Evie

13 Apr 2020

Rp 200.000

Laras

13 Apr 2020

Rp 5.000

Andi Hijratul Aswad

10 Apr 2020

Rp 1.000.000

Megawati

3 Apr 2020

Rp 10.000

Anonim

2 Apr 2020

Rp 5.000

Abu Azfar

1 Apr 2020

Rp 11.000

Annisa nur komariyah

1 Apr 2020

Rp 25.000