Pikul Kayu Dari Hutan, Lewati Sungai Berbahaya, Demi Bangun Masjid Tercinta
Memikul kayu dari hutan yang berjarak 1,5 Km dari kampung mereka. Mengiringi pengangkutannya dengan berenang di sungai dengan pelampung seadanya. Bahkan kabarnya, masih ada buaya di sana.
Bagaimana jika sampai kehilangan nyawa? “Tak apa, mati syahid,” kata mereka.

Perjuangan sebesar itu dilakukan warga Dusun Banyuates (Parit Pak Nisek) untuk membangun masjid satu-satunya di kampung mereka, Masjid Al Aqsha.

Bagi warga kampung yang terletak di Desa Pasak Piang, Kec. Sungai Ambawang, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat, ini, bahaya yang mereka tempuh sepadan dengan rasa cinta mereka.

Masjid Al Aqsha bukan hanya masjid satu-satunya di sana, tetapi juga masjid bersejarah. Masjid ini didirikan 41 tahun lalu oleh para sesepuh yang membuka kampung di pelosok Kalimantan itu. Maka Al Aqsha menjadi satu-satunya prasarana ibadah warisan orang tua mereka yang harus dijaga dan dipelihara.

Namun semakin hari, Al Aqsha semakin rusak. Rayap semakin lahap memakan dinding dan tiang-tiang kayunya. Bocor semakin meluas, plafon kayunya juga acapkali berjatuhan mengenai jamaah.

Warga belum berani merobohkan masjid, karena tidak ada alternatif lain sebagai tempat shalat Jumat. Masjid terdekat harus ditempuh 45 menit berjalan kaki, atau sekitar 2 Km melewati jalan sempit yang sudah rusak.

Masjid berukuran 6×10 m2 itupun sudah tidak bisa menampung 76 KK yang menghuni kampung tersebut. Rencananya, masjid akan diperluas menjadi 16×16 m2.

Selain shalat lima waktu berjamaah, shalat Jumat, tarawih, dan majelis taklim kaum ibu, setiap bakda Ashar ada pengajian rutin anak-anak. Alhamdulillah, kesadaran warga akan agama cukup tinggi, sehingga Al Aqsha senantiasa makmur dengan aktivitas keagamaan.

Menyadari masjid mereka semakin rusak, warga berinisiatif patungan dengan nominal Rp 5.000 – Rp 25.000 per minggu. Iuran ini sudah berjalan 4 tahun, namun dana yang terkumpul belum juga mencukupi. Pendapatan mereka sebagai petani noreh (karet) hanya berkisar Rp 500 ribu per bulan.

Lokasi kampung memang terpencil, berjarak 22 Km dari kota Pontianak. Jalan berlapis semen yang sudah rusak pun hanya bisa dilewati motor dan motor air (kapal kayu), sehingga ongkos angkutan dan harga material melambung tinggi.

Mengangkut material menggunakan motor air, harus melewati 3 jalur sungai. Pertama, melewati Sungai Kapuas, lalu melewati Sungai Ambawang, dan terakhir memasuki Sungai Piang. Masing-masing selama 1 jam, sehingga perjalanan PP dari dan ke Dusun Parit Pak Nisek memakan waktu 6 jam.

Masjid Al Aqsha yang ini memang bukan Masjidil Aqsha di Palestina sana, namun keduanya memiliki kesamaan. Keberadaannya sama-sama diperjuangkan oleh umat yang mencintainya.

Sobat, yuk wujudkan Masjid Al Aqsha yang kokoh untuk saudara kita di pelosok Kalimantan ini. Klik ‘bantu sekarang’.

    Tidak ada update baru belum

Hamba Allah

26 Sep 2020

Rp 100.442

Hamba Allah

26 Sep 2020

Rp 500.029

Hamba Allah

"Bismillah semoga bermanfaat"

22 Sep 2020

Rp 50.303

Hamba Allah

"jazakalloh"

22 Sep 2020

Rp 100.273

Hamba Allah

"BISMILLAH, SEMANGAT UNTUK BAPAK2 YANG NYEBRANG SUNGAI"

21 Sep 2020

Rp 300.403

Arif ali

"Bismillah"

19 Sep 2020

Rp 100.359

Hamba Allah

19 Sep 2020

Rp 100.359

Hamba Allah

18 Sep 2020

Rp 100.209

Hamba Allah

18 Sep 2020

Rp 50.225

Vita

18 Sep 2020

Rp 150.372

Abu Hari

18 Sep 2020

Rp 50.075

Hardjito Bin Tasiman Kartoatmodjo

18 Sep 2020

Rp 100.421

Arifkunc

"Baarakallah.. Aamiin"

18 Sep 2020

Rp 50.008

Tommy Arjanggi

18 Sep 2020

Rp 100.341

Odon

17 Sep 2020

Rp 2.596

Hamba Allah

"moga lancar"

17 Sep 2020

Rp 2.117

Hamba Allah

"Insya Allah berkah.. Amin Allahuma Amin"

17 Sep 2020

Rp 1.000.381

Muarif afia dzakiyyah

"Semoga jadi pahala jariyah Aamiin"

16 Sep 2020

Rp 100.144