Bagaimana rasanya hidup sebagai muslim minoritas dan masjid satu-satunya “digusur”? Tanyakan pada 30 KK muslim di Lingkungan 3, Kel. Meras, Manado.

Sudah 28 tahun Masjid Al Baits menemani umat Islam di sana. Berada di lingkungan mayoritas Nasrani, Al Baits menjadi masjid sandaran 30 KK muslim di sana.

Namun hari ini, masjid terpaksa “digusur”, karena berdiri di tanah milik developer perumahan.

Sebagai gantinya, sudah tersedia tanah seluas 12×8 meter persegi sekitar 15 meter dari lokasi Al Baits saat ini. Namun, tanah itu tidak gratis, jamaah harus membelinya seharga Rp 25 juta.

Hidup sebagai minoritas membuat ikatan ukhuwah di sana begitu kuat. Sejak masih di lokasi yang lama, jamaah sudah terbiasa swadaya untuk membangun dan memperbaiki masjid. Bahkan toilet dan tempat wudhu pun hasil patungan mereka.

Akan tetapi, setelah mengumpulkan dana untuk membeli tanah, kini jamaah kelimpungan mengumpulkan uang pembangunan masjid.

Penghasilan jamaah yang mayoritas hanya pedagang kecil dan buruh kebun hanya berkisar Rp 200 ribu – Rp 1,5 juta per bulan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Jika memilih beribadah ke masjid lain, yang terdekat berjarak 2 kilometer dari wilayah mereka. Menggunakan motor memang cepat, namun sayangnya masjid terdekat pun terbatas kapasitas jamaahnya.

Fungsi masjid semakin penting lagi di daerah minoritas, karena masjid tak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga tempat menguatkan persatuan umat yang hanya menjadi kelompok kecil di sana.

Yuk, kuatkan muslim minoritas ini dengan membangun Masjid Al Baits yang baru. Klik “bantu sekarang”.

    Tidak ada update baru belum

Hamba Allah

15 Oct 2020

Rp 300.192

Hamba Allah

15 Oct 2020

Rp 11.374