Bukan Rumah Panggung Nenek, Ini Mushola Satu-satunya di Kampung Jamilega
Kalian tahu rumah panggung? Lantai kayunya berderak saat diinjak, angin bebas menyelusup dari dinding bambunya, pada tiang kayunya kerap kita temukan koloni rayap, dan di plafon geribiknya kerap tercetak jejak air—bukti valid kebocoran. Memprihatinkan.

Kondisi itulah yang dialami Mushola Al Pardan, di Kampung Jamilega, pelosok Cianjur Selatan. Bangunan berukuran 5 x 7 m2 itu bisa menampung 30 jamaah, namun kini harus dikurangi, karena kondisinya semakin rapuh.

 

Genteng bocor di sana-sini, tiang kayunya sudah keropos, plafonnya lapuk, sehingga setiap angin kencang atau hujan deras, resiko roboh menghantui warga yang sedang beribadah.

Meski hanya berupa rumah panggung di tengah sawah, sudah 20 tahun Al Pardan menemani ibadah 200 KK warga setempat.

 

Shalat berjamaah dan pengajian menghangatkan bangunan sederhana ini, meski sering terkendala aliran listrik, akibat mushola masih menumpang listrik ke rumah warga.

Memasuki musim hujan, Al Pardan belum juga tersentuh renovasi. Warga belum berani membongkar meski bangunan semakin reyot, karena tidak ada lagi sarana ibadah pada radius 1,5 KM dari mereka.

Iuran jamaah masih jauh panggang dari api. Penghasilan sebagai buruh tani hanya cukup untuk mengasapi dapur.

Apalagi, Jamilega berjarak 25 KM dari kota Cianjur. Medan jalannya curam dan terjal, hanya motor yang bisa melewatinya. Hal ini menambah kesulitan pengumpulan dana, karena harga material jadi membengkak.

Sobat, rumah panggung mungkin memang adem, tapi rumah panggung bernama Mushola Al Pardan tidak bisa dibiarkan seperti sekarang. Yuk, bantu renovasi Mushola Al Pardan agar lebih kokoh. Klik ‘bantu sekarang’.

    Tidak ada update baru belum

Hamba Allah

6 Oct 2020

Rp 100.302

Melia Oktia Suzana

"Semoga Allah memberikan rezeki dan melindungi kita semua. Amin"

2 Oct 2020

Rp 100.477