Penyebaran agama islam di pedalaman suku Ta'a Wana berjalan pesat, namun belum ditunjang oleh rumah ibadah yang layak. Masjid yang sudah berdiri disana kondisinya sangat memprihatinkan.

Mualaf Suku Ta’a Wana Butuh Masjid Layak

Rp68.057.000

terkumpul dari target Rp450.000.000
15.12% terkumpul 88 hari lagi
Minimum amount is Rp0 Maximum amount is Rp0
DONASI VIA WHATSAPP

Deskripsi

Penyebaran agama islam di pedalaman suku Ta’a Wana berjalan pesat, namun belum ditunjang rumah ibadah yang layak. Masjid yang sudah berdiri kondisinya sangat memprihatinkan!

Suku Ta’a Wana merupakan suku terasing yang hidup dalam di pedalaman Morowali Utara.  Mereka hidup di pegunungan, dan enggan berhubungan dengan dunia luar. Seperti sebutannya, “Orang hutan”, suku Wana sangat menggantungkan hidup mereka pada hutan. Suku wana sendiri tinggal di 3 titik tempat yang berbeda. Titik pertama bisa ditempuh selama 10 jam berjalan kaki dari posko dai. Titik terjauhnya butuh waktu 6 hari perjalanan menaiki kuda.

Kendati hidup terasing, penyebaran Islam di pedalaman sudah menyebar cukup pesat. Hal ini berkat perjuangan para Dai yang memilih berjuang menegakkan agama Allah di pedalaman Morowali Utara. Merekalah sosok yang membimbing warga suku wana untuk mengenal Pencipta-Nya.

Masjid berukuran 6×8 dengan fondasi miring dan nyaris roboh di dusun Padangkalang, Morowali Utara

“Suku Ta’a Wana ini jumlahnya ribuan. Kalau ketemu orang asing jaga jarak, langsung lari. Mereka tidak bisa baca tulis , tidak bisa Bahasa Indonesia. Mereka juga banyak yang belum beragama, masih animisme. Mereka tau ada “kekuasaan”, tapi perlu diarahkan. Alhamdulillah, kini mereka melihat Islam lebih cocok dengan apa yg mereka yakini,” kata Ust. Baharudin, Dai Perintis di Pelosok Suku Ta’a Wana, Morowali Utara.

Menurut Ust. Baharudin, pada tahun 2000-an, warga muslim suku wana hanya berjumlah 4 KK (kepala keluarga), sisanya mereka masih menganut agama kepercayaan. “Namun saat ini Alhamdulillah, sudah ratusan dari mereka yang sudah menganut agama Islam,” ungkapnya.

Masjid kayu tak layak di pedalaman suku ta’a wana, tepatnya di Desa Ngoyo

Namun pesatnya penyebaran agama islam di pedalaman, belum ditunjang oleh rumah ibadah yang layak. Masjid yang sudah berdiri disana kondisinya sangat memprihatinkan. Seperti dinding kayu yang sudah keropos, fondasi yang sudah miring, dan ukurannya yang masih terlalu sempit. Padahal, masjid merupakan sarana yang vital untuk membentuk karakter umat di pedalaman.

Setidaknya ada empat lokasi masjid di pedalaman Morowali Utara yang kondisinya jauh dari kata layak. Diantaranya di Desa Ngoyo, dusun Padangkalang,  Desa Gunung Tua, dan Ampana.

Selain digunakan para mualaf untuk mendalami agama, masjid juga kerap digunakan oleh para dai sebagai tempat mengajar ngaji dan pendidikan anak-anak suku wana. Untuk itu, masjid yang kokoh sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi kebutuhan rohani dan pendidikan mualaf suku wana.

Dai sedang mengajarkan ilmu pendidikan dan agama di masjid sederhana di dusun Monyo’e, pedalaman suku Ta’a Wana Morowali Utara

“Kami, Dai di Suku Wana, tetap harus disini untuk membimbing mereka menjadi muslim yang taat. Dan kami sangat mengharapkan bantuan dari semua masyarakat untuk bisa membangunkan masjid yang kokoh, sebagai penunjang dakwah kami dan menjadi wadah ilmu bagi para generasi penerus pedalaman suku wana,” jelas Ust. Baharuddin.

Mari sobat, kita bantu wujudkan mimpi warga muslim di pedalaman suku wana agar bisa beribadah dan menimba ilmu di Masjid yang kokoh dan nyaman.

Review

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Mualaf Suku Ta’a Wana Butuh Masjid Layak”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Whatsapp Chat Live Chat