Patungan Motor untuk Dai Pedalaman Morowali Utara

Rp25.457.483

terkumpul dari target Rp150.000.000
16.97% terkumpul 65 hari lagi
Minimum amount is Rp0 Maximum amount is Rp0
DONASI VIA WHATSAPP

Deskripsi

“Saat pertama kali perjalanan dakwah ke Suku Ta’a Wana, saya seperti masuk di antah berantah. Kondisi jalanya terjal dengan jurang dipinggirnya. Selain itu, ada puluhan anak sungai yang harus dilewati,” ungkap Ustadz Baharudin.

Banyak sekali rintangan yg harus dilalui oleh para dai pedalaman Morowali Utara dalam mengemban tugas berdakwah di perkampungan Suku Ta’a Wana. Mereka harus berjalan kaki atau menaiki kuda berhari-hari lamanya melalui rute jalan yg terlampau ekstrim. Kondisi jalan berlumpur dan berbatu, belum lagi pendakian yg panjang dan tajam harus mereka lalui.

Suasana Kampung Suku Ta’a Wana di Pedalaman Morowali Utara

Ustadz Baharudin adalah satu dari sembilan Dai di Pelosok Suku Ta’a Wana, di Desa Monyo’e, Kec. Momosalato, Kab. Morowali utara, Sulawesi Tengah. Dakwah di Suku Ta’a dimulai tahun 2000.

Ust. Baharuddin, Satu dari Sembilan Dai yang Mengemban Misi Dakwah di Pedalaman

Menurut dia, ketika itu Suku Ta’a Wana ini mayoritas belum beragama dan masih menganut kepercayaan animisme. Suku Ta’a meyakini ada kekuasaan yang mengendalikan alam, tapi memang sangat perlu diarahkan. Dan Alhamdulillah Mereka melihat Islam lebih cocok dengan apa yang mereka yakini. Salah satunya adalah perintah untuk khitan bagi laki-laki, ternyata di mereka juga ada khitan.

Oleh karena itu, ketika diajarkan tentang agama Islam dengan pelan-pelan, semakin banyak yang menjadi mualaf.

“Kami, para dai di Suku Ta’a, tetap harus disini untuk membimbing mereka menjadi muslim yang taat. Dan kami sangat mengharapkan bantuan dari semua orang yang peduli dengan dakwah suku pedalaman,” kata Ustadz Baharudin.

 

Suku Ta’a sendiri tinggal di 3 titik tempat yang berbeda. Titik pertama bisa ditempuh selama 10 jam berjalan kaki dari posko dai. Titik terjauhnya butuh waktu 6 hari perjalanan menaiki kuda.

Tak hanya itu, dalam perjalanan menuju perkampungan suku ta’a, para dai juga harus melewati puluhan anak sungai. Dan bila hujan deras datang, sungai kerap banjir. Arus sungai yg deras sangat berbahaya utk dilewati. Perjalanan pun kadang terhenti sementara waktu, menunggu hingga banjir mereda dan perjalanan bisa kembali dilanjutkan.

Salah satu jalur alternatif ekstrim yang musti dilewati para Dai dan warga suku wana untuk menyebrang dari satu desa ke desa lainnya

“Saat pertama kali perjalanan dakwah ke Suku Ta’a Wana, saya seperti masuk di antah berantah. Kondisi jalanya terjal dengan jurang dipinggirnya. Selain itu, ada puluhan anak sungai yang harus dilewati,” ungkap Ustadz Baharudin.

Medan dakwah para dai di kampung pedalaman suku ta’a wana ini memang tak mudah. Jauh dari keluarga dan fasilitas, medan dakwah yang sulit, penolakan dari masyarakat setempat, dan banyak resiko lainnya. Namun, sejumlah halangan dan rintangan tidak melemahkan tekad mereka.

Dai sedang mengajarkan ilmu pendidikan dan agama di masjid sederhana di dusun Monyo’e, pedalaman suku Ta’a Wana Morowali Utara

Untuk itu, Masjid Nusantara sangat mengapresiasi para dai di pedalaman morowali utara yang memilih berjuang menegakkan agama Allah. Karena merekalah sosok-sosok yang bisa membimbing warga suku ta’a untuk mengenal Pencipta-Nya.

Masjid Nusantara mengajak Sobat semua untuk turut membantu mempermudah dakwah kesembilan da’i di pedalaman Morowali Utara. Salah satu nya dengan memberikan mereka kendaraan motor untuk dakwah

Review

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Patungan Motor untuk Dai Pedalaman Morowali Utara”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Whatsapp Chat Live Chat