HUTANG PUASA RAMADHAN BELUM DIBAYAR.  Apa Konsekuensinya?

Orang yang memiliki udzur seperti sakit berat, bepergian jauh, wanita hamil, dan wanita menyusui mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa Ramadhan. Hari-hari di saat mereka tidak berpuasa Ramadhan dihitung sebagai hutang puasa Ramadhan. Mereka wajib melunasi hutang tersebut pada saat udzur mereka telah tiada.

Para ulama fiqih sepakat bahwa qadha’ tersebut paling lambat harus dikerjakan pada bulan Sya’ban, sebelum masuknya Ramadhan, tahun berikutnya. Hal itu berdasar hadits dari Aisyah RA, ia berkata:

Dahulu saya memiliki hutang shaum Ramadhan, namun saya tidak bisa membayarnya kecuali pada bulan Sya’ban, karena kesibukan saya mengurus Rasulullah.” (HR. Bukhari no. 1950 dan Muslim no. 1146)

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani berkata, “Dari kesungguhan Aisyah RA untuk melunasi hutang puasa Ramadhan pada bulan Sya’ban ini bisa disimpulkan bahwasanya tidak boleh menunda qadha’ puasa Ramadhan sampai datangnya Ramadhan tahun berikutnya.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/239)

Jika seorang menunda pelunasan hutang sampai datang Ramadhan berikutnya, maka hal itu tidak terlepas dari dua kondisi; menunda karena ada dan tanpa adanya udzur syar’i.

An-Nawawi berkata, “Jika ia memiliki udzur dalam menunda qadha’ karena terus-menerus safar, sakit, atau semisalnya; ia boleh menunda qadha’ selama masih memiliki udzur. Meskipun hal itu berlanjut beberapa tahun. Atas penundaan qadha’ tersebut, ia tidak wajib membayar fidyah, meskipun berulang kali datang beberapa bulan Ramadhan.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 6/385)

Jika ia tidak melunasi hutang puasa Ramadhan, karena ia malas atau meremehkan perkara qadha’ puasa. Penundaan qadha’ puasa tanpa adanya udzur syar’i adalah sebuah dosa besar, sehingga pelakunya wajib bertaubat.

Namun para ulama berbeda pendapat apakah selain terkena kewajiban qadha’, ia juga terkena fidyah? Dalam hal ini ada dua pendapat, yaitu:

  1. Ia wajib melunasi hutang shaum (men-qadha’) dan membayar fidyah.
  2. Ia wajib melunasi hutang shaum (men-qadha’), dan tidak ada kewajiban membayar fidyah. (Badai’ush Shanai’ wa Tartibus Syarai’, 2/657-658, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, 2/174, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 6/385-387, dan Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, 4/400-401)

Adapun penjelasannya sebagai berikut:

  • Qadha’ dan Fidyah

Imam Ad-Daraquthni, Abdurrazzaq, Sa’id bin Manshur, dan Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Umar bin Khathab, Abu Hurairah, dan Ibnu Abbas RA bahwa mereka memfatwakan selain qadha’, ia juga harus membayar fidyahFidyah di sini adalah setiap hari ia memberi makan kepada satu orang miskin.

Pendapat ini diikuti oleh para ulama tabi’in seperti Atha’ bin Abi Rabbah, Qatadah, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq, Mujahid, Maimun bin Mihran, Sa’id bin Jubair, dan Ibnu Syihab az-Zuhri. Adapun ulama madzhab yang memegangi pendapat ini adalah Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hambal. Ini juga merupakan pendapat mayoritas ulama.

Imam Ath-Thahawi al-Hanafi meriwayatkan dari ulama tabi’in, Yahya bin Aktsam, ia berkata, “Saya mendapati pendapat ini dari enam ulama sahabat, dan saya tidak mendapati seorang pun pada generasi sahabat yang menyelisihi pendapat ini.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 4/238)

Argumentasi mereka adalah:

  1. Fatwa para ulama sahabat, yang tiada seorang sahabat pun menyelisihi fatwa tersebut.
  2. Qiyas dalam masalah kafarat (denda). Orang yang menunda-nunda qadha’ shaum Ramadhan dikenai fidyah sebagai kafarat, diqiyaskan kepada orang yang secara sengaja makan di siang hari Ramadhan tanpa ada udzur. Kesamaan ‘illah (alasan yang melatar belakangi sebuah hukum syar’i) antara kedua kasus tersebut adalah meremehkan shaum Ramadhan.
  • Qadha’ tanpa Fidyah

Ulama tabi’in Hasan al-Bashri dan Ibrahim an-Nakha’i berpendapat orang yang menunda-nunda qadha’ shaum Ramadhan sampai datang Ramadhan tahun berikutnya, tanpa adanya udzur, maka ia “hanya” terkena kewajiban qadha’. Namun ia tidak terkena kewajiban fidyah.

Ulama madzhab yang memegangi pendapat ini adalah Imam Abu Hanifah dan Daud azh-Zhahiri.

Mereka berdalil dengan:

  1. Firman Allah, “…hendaklah ia mengganti shaum pada beberapa hari yang lain (di luar Ramadhan).” (QS. Al-Baqarah [2]: 184) Dalam ayat ini, Allah hanya memerintahkan qadha’, tanpa memerintahkan fidyah.
  2. Tidak ada hadits shahih yang memerintahkan fidyah bagi orang yang terlambat mengqadha’ hutang shaum Ramadhan.
  • Kajian dan Tarjih Pendapat

Apabila kedua pendapat di atas dikaji dan diperbandingkan, maka bisa ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Ayat Al-Qur’an tidak secara tegas memerintahkan fidyah bagi orang yang terlambat membayar hutang puasa Ramadhan.
  2. Al-Bukhari dan Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa tidak ada hadits marfu’ yang memerintahkan fidyah atas orang yang terlambat menqadha’ shaum Ramadhan.
  3. Maka orang yang terlambat menqadha’ puasa Ramadhan tanpa adanya udzur “hanya”lah terkena kewajiban menqadha’, tanpa wajib membayar fidyah.
  4. Adapun fatwa para ulama sahabat yang memerintahkan fidyah hendaknya dibawa kepada pengertian anjuran, bukan perintah wajib. Demikian penjelasan Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid dan Muhammad Shalih Al-Utsaimin saat mendudukkan fatwa para ulama sahabat tersebut.
  5. Sebagai langkah kehati-hatian, adalah lebih baik apabila ia melakukan qadha’ disertai membayar fidyah. Hal itu sebagai bentuk mengkompromikan dua pendapat dan keluar dari perbedaan pendapat mereka.

 

Wallahu a’lam bish-shawab.

Referensi:

Abu Bakar bin Mas’ud al-Kasani, Badai’ ash-Shanai’ fi Tartib asy-Syarai’, Kairo: Darul Hadits, cet. 1, 1426 H.

Ibnu Abdil Barr al-Maliki, Al-Istidzkar al-Jami’ li-Madzahib Fuqaha’ al-Amshar, Damaskus: Dar Qutaibah, cet. 1, 1414 H.

Ibnu Rusyd al-Maliki, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid, Kairo: Maktabah Ibni Taimiyah, cet. 1, 1415 H.

Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Fikr, cet. 1, 1417 H.

Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Al-Mughni Syarh Mukhtashar al-Khiraqi, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub, cet. 3, 1417 H.

Ibnu Hajar al-Asqalani, Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1410 H.

Muhammad Shalih al-Utsaimin, Asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zad al-Mustaqni’, Damam: Dar Ibn Al-Jauzi, cet. 1, 1424 H.

 

Penulis: Fauzan

Sumber: Kiblat.Net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *